BORNEONEWS, Istanbul – Militer Iran mendesak Amerika Serikat mematuhi kesepakatan damai yang dicapai kedua negara pada Juni 2026, di tengah meningkatnya ketegangan dan aksi saling serang di kawasan Selat Hormuz.
Juru Bicara Militer Iran Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia menuding campur tangan AS dalam membuka jalur pelayaran yang disebut Teheran ilegal telah memicu ketidakamanan di kawasan tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Akraminia kepada televisi pemerintah Iran, IRIB, Minggu, 12 Juli 2026.
Ia menegaskan angkatan bersenjata Iran akan mempertahankan hak dan kepentingan negaranya di Selat Hormuz. Militer Iran juga disebut terus memperbarui daftar sasaran sebagai bagian dari kesiapan menghadapi perkembangan situasi.
Ketegangan kembali meningkat setelah Iran melancarkan serangan rudal dan pesawat tanpa awak terhadap sejumlah pangkalan serta fasilitas militer AS di kawasan Teluk.
Amerika Serikat kemudian membalas dengan serangan terhadap berbagai fasilitas militer di wilayah selatan Iran, termasuk instalasi radar, peluncur rudal, dan pesawat tanpa awak.
Komando Pusat AS atau CENTCOM menyatakan operasi itu dilakukan sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal niaga di Selat Hormuz.
Sebuah kapal kontainer berbendera Siprus dilaporkan mengalami kerusakan setelah diserang di jalur pelayaran tersebut. Satu anggota awak kapal dilaporkan masih hilang.
Konflik terbaru itu mengancam kesepakatan penghentian permusuhan yang dicapai Iran dan AS pada Juni 2026. Kesepakatan tersebut sebelumnya ditujukan untuk meredakan konflik serta memulihkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Selat Hormuz menjadi pusat perselisihan karena Iran mengklaim memiliki kewenangan mengatur pelayaran di kawasan tersebut. Sementara itu, Amerika Serikat menegaskan jalur laut internasional harus tetap terbuka bagi kapal-kapal niaga.
Aksi saling serang kedua negara meningkatkan kekhawatiran terhadap meluasnya konflik sekaligus mengganggu keamanan jalur perdagangan dan pengiriman energi internasional.
ANTARA/Anadolu









