BORNEONEWS, Jakarta – Indonesia mendorong penguatan konektivitas penerbangan antara ASEAN dan China untuk memperluas akses pasar, meningkatkan arus wisatawan dan perdagangan, serta mengembangkan industri penerbangan kawasan.
Upaya tersebut dibahas dalam Pertemuan ke-17 ASEAN–China Working Group on Regional Air Services Arrangements atau ACWG-RASA yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan di Yogyakarta.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Lukman F Laisa mengatakan, pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kerja sama penerbangan antara negara-negara ASEAN dan China.
“Penyelenggaraan pertemuan di Yogyakarta menjadi momentum penting untuk memperkuat kerja sama penerbangan antara ASEAN dan China,” kata Lukman dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, 12 Juli 2026.
Pertemuan tersebut diikuti 61 delegasi dari negara anggota ASEAN dan China. Selain itu, hadir 127 perwakilan maskapai, pengelola bandar udara, perusahaan manufaktur dan perawatan pesawat, serta asosiasi penerbangan.
Lukman mengatakan Indonesia aktif mendorong konektivitas udara ASEAN-China sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi nasional dalam jaringan transportasi udara regional.
Forum tersebut tidak hanya membahas persoalan teknis penerbangan, tetapi juga menjadi wadah mempererat kerja sama untuk menciptakan layanan udara yang lebih terbuka, aman, dan berdaya saing.
“Indonesia berkomitmen mengambil peran aktif dalam mendorong integrasi layanan penerbangan ASEAN dan China guna mendukung pertumbuhan ekonomi, pariwisata, dan industri penerbangan kawasan,” ujarnya.
Rangkaian ACWG-RASA juga diisi ASEAN-China Airlines Forum yang membahas sejumlah isu strategis, mulai dari pertumbuhan kargo udara sebagai penggerak ekonomi dan perdagangan elektronik, tantangan penerbangan di tengah kondisi ekonomi global, hingga ketersediaan slot bandara.
Forum tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi, antara lain peningkatan fleksibilitas slot penerbangan, perbaikan mekanisme pemeliharaan dan perawatan pesawat, peningkatan kapasitas, serta penyederhanaan proses visa dan imigrasi.
Peserta juga mendorong penguatan kerja sama dalam regulasi keselamatan dan keamanan penerbangan.
Dalam ASEAN Caucus, delegasi membahas perkembangan ratifikasi Protokol 3 ASEAN-China Air Transport Agreement, liberalisasi hak angkut kelima untuk layanan kargo, aspek keselamatan operasional, serta pembukaan rute dan penambahan frekuensi penerbangan.
Indonesia yang menjadi negara koordinator ASEAN untuk kerja sama dengan China turut mengusulkan penguatan kerja sama teknis dalam bidang sistem pesawat tanpa awak atau Unmanned Aircraft Systems.
Sejumlah hasil penting juga dicapai dalam pertemuan pleno, termasuk koreksi titik penerbangan dari Mataram menjadi Makassar dalam Protokol 3 ASEAN-China Air Transport Agreement.
Selain itu, terdapat usulan peningkatan liberalisasi hak angkut kelima untuk kargo dengan melibatkan empat pusat kargo utama di China.
ASEAN juga mengusulkan pelaksanaan lokakarya dan pertukaran informasi mengenai regulasi pesawat tanpa awak di China pada semester kedua 2026.
Pertemuan turut membahas kendala operasional maskapai ASEAN, seperti alokasi slot, hambatan bahasa, dan proses perizinan.
Indonesia menyampaikan perkembangan kebijakan pengendalian mutu keamanan penerbangan serta pengembangan fasilitas pemeliharaan, perbaikan, dan pemeriksaan pesawat oleh GMF.
Lukman menilai penyelenggaraan ACWG-RASA di Yogyakarta menegaskan komitmen Indonesia dalam membangun konektivitas penerbangan ASEAN-China yang semakin terbuka, aman, dan kompetitif.
“Pertemuan ini sekaligus membuka peluang kerja sama baru di bidang kargo, perawatan pesawat, manufaktur, dan teknologi penerbangan,” pungkasnya.
ANTARA









