BORNEONEWS, Jakarta – Pengamat politik Hendri Satrio alias Hensa menilai polemik Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang mengemudikan mobil golf saat kunjungan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi di Candi Prambanan tidak perlu diperpanjang.
Sorotan publik muncul karena Teddy terlihat membawa Prabowo dan Modi menggunakan mobil golf, sedangkan Menteri Kebudayaan Fadli Zon berjalan kaki di sekitar kendaraan tersebut.
Kunjungan Prabowo dan Modi ke Candi Prambanan berlangsung pada Rabu, 8 Juli 2026, sebagai bagian dari penguatan hubungan sejarah dan kebudayaan Indonesia dengan India.
Hendri yang akrab disapa Hensa mengatakan, situasi tersebut kemungkinan merupakan bagian dari pembagian tugas selama kunjungan kenegaraan.
“Menurut saya, tidak ada yang salah dengan situasi tersebut. Kalau dipikirkan, justru akan lebih aneh apabila Fadli Zon yang mengemudikan mobil golf,” kata Hensa dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, 12 Juli 2026.
Menurut pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI tersebut, Fadli memiliki peran memberikan penjelasan mengenai Candi Prambanan kepada Presiden dan tamu negara.
Tugas itu dinilai akan sulit dilakukan apabila Fadli harus mengemudikan kendaraan sekaligus menyampaikan informasi dan memberikan arahan selama kunjungan.
“Ia akan kesulitan berbicara dan menjelaskan sambil mengemudikan kendaraan. Situasinya justru dapat menjadi lebih membingungkan,” ujarnya.
Hensa menilai posisi Teddy sebagai Sekretaris Kabinet membuatnya wajar ikut memastikan mobilitas Presiden selama agenda kenegaraan berjalan lancar.
Penggunaan mobil golf juga disesuaikan dengan kondisi kawasan Candi Prambanan yang membutuhkan kendaraan khusus untuk membawa tamu berkeliling.
“Teddy merupakan Sekretaris Kabinet sehingga sangat mungkin salah satu tugasnya memastikan mobilitas Presiden berjalan lancar, termasuk ketika harus mengemudikan kendaraan di kawasan yang menggunakan mobil golf,” katanya.
Ia juga menilai Prabowo terlihat nyaman selama perjalanan tersebut sehingga kejadian itu tidak perlu langsung dikaitkan dengan privilese atau perlakuan istimewa.
Menurut Hensa, pembagian tugas dalam kunjungan kenegaraan biasanya dilakukan secara praktis. Sebagian pihak bertugas memberikan penjelasan, sedangkan pihak lainnya memastikan pergerakan Presiden dan tamu negara berlangsung aman serta lancar.
“Selama setiap pihak menjalankan tugasnya, saya kira tidak ada persoalan yang perlu dibesar-besarkan,” tuturnya.
ANTARA









