BORNEONEWS, Ponorogo – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mendorong Universitas Darussalam Gontor menghasilkan riset yang mampu menjawab berbagai persoalan nyata di tengah masyarakat.
Karya akademik, mulai dari penelitian, skripsi, tesis hingga disertasi, diharapkan tidak hanya menjadi dokumen kampus, tetapi dapat diterapkan untuk mendukung pembangunan di Ponorogo, Jawa Timur, dan Indonesia.
“Bangsa ini membutuhkan terobosan dari perguruan tinggi. Hasil riset, tesis, dan disertasi harus mampu menyelesaikan persoalan di daerah, bukan hanya berhenti sebagai publikasi ilmiah,” kata Brian saat menghadiri reuni akbar dalam rangka Milad ke-63 UNIDA Gontor di Ponorogo, Minggu, 12 Juli 2026.
Menurutnya, perguruan tinggi mempunyai peran strategis dalam mencetak sumber daya manusia unggul sekaligus menghadirkan inovasi yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
UNIDA Gontor diharapkan menjadi salah satu penggerak pembangunan daerah melalui penerapan hasil penelitian pada sektor pengelolaan sampah, pertanian, kesehatan, hingga tata kota.
Brian juga mendorong penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat agar hasil penelitian sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Selain penerapan langsung, hilirisasi riset perlu diperkuat melalui pengembangan perusahaan rintisan dan industri berbasis inovasi.
“Kampus maju harus mempunyai perusahaan rintisan dan industri yang dapat melanjutkan karya inovasi. Hasil riset jangan berhenti dalam bentuk buku atau tulisan, tetapi dikembangkan menjadi produk yang memberikan manfaat lebih luas,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Brian turut mengapresiasi peran Pondok Modern Darussalam Gontor yang selama satu abad telah melahirkan banyak kader bangsa.
Ia menilai kekuatan pendidikan Gontor tidak hanya terletak pada kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan integritas, akhlak, kemampuan berbahasa, dan karakter kepemimpinan.
Nilai-nilai tersebut diharapkan terus dipertahankan serta diperkuat agar semakin banyak alumni Gontor berkiprah di berbagai lembaga strategis dan memberikan kontribusi bagi negara.
Sementara itu, Rektor UNIDA Gontor Prof KH Hamid Fahmy Zarkasyi mengatakan kampus tersebut tetap mempertahankan sistem pendidikan berbasis pesantren.
Seluruh mahasiswa tinggal di asrama dan memperoleh pembinaan intensif dari dosen serta jajaran pimpinan kampus.
Sistem pendidikan UNIDA Gontor tidak hanya mengukur pencapaian akademik melalui indeks prestasi kumulatif. Mahasiswa juga dinilai berdasarkan kegiatan organisasi, hafalan Al-Qur’an, aktivitas keagamaan, kemampuan memimpin, dan keterlibatan sosial.
“Keteladanan intelektual saja tidak cukup untuk hidup di tengah masyarakat. Kampus digunakan sebagai tempat belajar bermasyarakat, berorganisasi, memimpin, dan berkolaborasi,” tuturnya.
ANTARA









