BORNEONEWS, Palangka Raya – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat serta pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan Tengah.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Muhammad Ihsan Siddiq, mengatakan potensi karhutla meningkat seiring rendahnya curah hujan yang diprakirakan terjadi dalam beberapa pekan ke depan.
Berdasarkan prakiraan yang diperbarui pada 7 Juli 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah selama Dasarian II Juli hingga Dasarian I Agustus berada dalam kategori rendah.
“Sudah perlu diwaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan di Kalteng, mengingat potensi hujan untuk tiga dasarian ke depan diprediksi berada dalam kategori rendah,” kata Siddiq, Senin, 13 Juli 2026.
Meski demikian, sebagian besar wilayah Kabupaten Murung Raya dan sebagian kecil wilayah utara Kabupaten Barito Utara diprakirakan masih mengalami curah hujan kategori menengah pada Dasarian III Juli.
Siddiq menjelaskan, minimnya curah hujan dalam beberapa dasarian dapat membuat kondisi tanah dan vegetasi semakin kering. Risiko kebakaran dinilai lebih tinggi pada kawasan lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan apabila api telah meluas.
Masyarakat diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga juga diingatkan berhati-hati saat melakukan aktivitas yang dapat memunculkan percikan api, termasuk membuang puntung rokok sembarangan.
BMKG turut mendorong pemerintah daerah dan instansi terkait memperkuat langkah pencegahan serta kesiapsiagaan menghadapi ancaman karhutla.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pemantauan titik panas, peningkatan patroli lapangan, kesiapan sarana pemadaman, serta sosialisasi mengenai bahaya pembakaran lahan kepada masyarakat.
“Dengan meningkatnya kewaspadaan dan kerja sama seluruh pihak, potensi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah diharapkan dapat ditekan sehingga dampaknya terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan aktivitas ekonomi bisa diminimalkan,” pungkasnya. (MARINI/j)









