PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Palangka Raya mengembangkan Pahandut Smart Ecovillage sebagai model penataan kawasan permukiman rawa perkotaan berbasis sains.

Program tersebut dilaksanakan di RW 007 Kelurahan Pahandut, Kota Palangka Raya, yang dihuni sekitar 1.000 jiwa atau 384 kepala keluarga.

Dekan FMIPA UPR, Agus Haryono, mengatakan program itu dirancang sebagai ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan media.

“Kami ingin mempertemukan penelitian dosen, kreativitas mahasiswa, kebutuhan masyarakat, dukungan pemerintah, dunia usaha, dan media dalam satu kawasan sehingga menghasilkan perubahan yang nyata dan terukur,” kata Agus di Palangka Raya, Senin, 13 Juli 2026.

Kawasan tersebut dipilih setelah tim FMIPA UPR mengidentifikasi berbagai persoalan lingkungan dan sosial yang dihadapi masyarakat setempat.

Selama Mei hingga Juni 2026, dosen dan mahasiswa melakukan survei lapangan, berdialog dengan warga, serta memetakan persoalan dan potensi kawasan.

Hasil pemetaan kemudian dijadikan dasar untuk menyusun konsep Pahandut Smart Ecovillage sebagai laboratorium hidup yang menerapkan ilmu pengetahuan secara langsung di tengah masyarakat.

“Program ini kami rancang agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FMIPA UPR sekaligus Koordinator Dosen Pahandut Smart Ecovillage, Made Dirgantara, mengatakan pelaksanaan program memasuki tahap utama pada Juli 2026.

Program tersebut dibangun melalui tujuh pilar, yakni smart waste, smart health, smart safety, smart green, smart economy, smart community, serta smart culture and religious.

Ketujuh pilar itu menjadi dasar pelaksanaan sejumlah kegiatan pemberdayaan, mulai dari pengelolaan sampah berbasis rukun tetangga, penguatan bank sampah, edukasi kesehatan, hingga pengembangan pertanian perkotaan.

Program lainnya meliputi penerapan teknologi filtrasi air, pemasangan penerangan jalan tenaga surya, digitalisasi usaha mikro kecil dan menengah, serta penyusunan data sosial masyarakat.

Mahasiswa dilibatkan dalam penelitian terapan dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Mereka diarahkan untuk memahami persoalan warga dan menyusun solusi bersama secara lintas disiplin.

“Mahasiswa belajar memahami persoalan masyarakat secara langsung, bekerja lintas disiplin, dan bersama warga merancang solusi yang dapat terus berjalan. Inilah esensi pendidikan tinggi yang berdampak,” kata Made.

Program Pahandut Smart Ecovillage dilaksanakan dengan pendekatan pentahelix yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, industri, dan media.

Kolaborasi tersebut diharapkan menciptakan perubahan berkelanjutan sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola potensi kawasan.

Rangkaian penelitian, edukasi, pengabdian, dan pendampingan masyarakat berlangsung mulai 2 Juli hingga 5 Agustus 2026. Program tersebut akan ditutup melalui Festival Kampung Keren pada 6 Agustus 2026.

FMIPA UPR menargetkan Pahandut Smart Ecovillage menjadi model kawasan cerdas berbasis lahan basah perkotaan yang dapat diterapkan di wilayah lain.

“Kami ingin ilmu pengetahuan benar-benar hadir untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat,” pungkas Made.