BORNEONEWS, Kuala Pembuang – Di balik tugasnya sebagai pelindung, pengayom, dan
pelayan masyarakat, tersimpan kisah pengabdian yang menginspirasi dari sosok Bripka
Yohanes Werren. Bhabinkamtibmas Desa Pematang Limau, Kecamatan Seruyan Hilir,
Kabupaten Seruyan. Tak hanya hadir untuk menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga
menjadi harapan bagi anak-anak yang pernah kehilangan kesempatan mengenyam
pendidikan.
Baginya, pengabdian kepada masyarakat tidak berhenti pada satu tugas menjaga keamanan
dan ketertiban. Ia meyakini bahwa masa depan sebuah desa juga ditentukan oleh kualitas
pendidikan generasi mudanya.
Keyakinan itulah yang melahirkan sebuah program sederhana namun penuh makna, yakni
Bhabinkamtibmas Aktivitas Belajar Bareng atau dikenal dengan sebutan Bhabin Aljabar.
Program tersebut menjadi ruang belajar bagi anak-anak putus sekolah yang tengah
mempersiapkan diri mengikuti Ujian Paket A sebagai jalur alternatif untuk memperoleh
pendidikan setara Sekolah Dasar.
Setiap selesai melaksanakan tugas melakukan pembinaan di tengah masyarakat, Bripka
Yohanes Werren langsung menuju Perpustakaan Desa. Di tempat itulah beberapa anak telah
menunggunya dengan membawa buku dan alat tulis, siap menerima pelajaran yang akan
membekali mereka menghadapi ujian.
Suasana belajar berlangsung sederhana. Tidak ada ruang kelas mewah ataupun fasilitas
modern. Namun semangat yang tumbuh di dalamnya menjadi modal terbesar. Dengan penuh
kesabaran, Bripka Yohanes menjelma menjadi guru, membimbing anak-anak putus sekolah
agar kembali berani bermimpi. Setiap huruf yang diajarkan, setiap pelajaran yang dibagikan,
menjadi harapan baru bagi masa depan mereka.
Program Bhabin Aljabar bukan sekadar kegiatan belajar mengajar. Lebih dari itu, program ini
menjadi jembatan yang mempererat hubungan antara Polri, pemerintah desa, dan masyarakat.
Kehadiran sosok seorang polisi di tengah ruang belajar memberikan pesan bahwa aparat
penegak hukum juga memiliki kepedulian besar terhadap masa depan pendidikan masyarakat.
"Bagi saya, menjadi anggota polisi bukan hanya menjaga keamanan semata, tetapi kepedulian
terhadap masyarakat menjadi yang utama," ungkap Bripka Yohanes Werren.
Menurutnya, anak-anak merupakan aset berharga yang harus dijaga dan diberi kesempatan
untuk berkembang. Mereka tidak boleh kehilangan harapan hanya karena terpaksa berhenti
mengenyam pendidikan formal akibat berbagai persoalan kehidupan.
Keinginan membantu anak-anak putus sekolah itu lahir dari pengalaman yang ia temui
langsung saat bertugas sebagai Bhabinkamtibmas. Dari kunjungan ke rumah-rumah warga
hingga berinteraksi setiap hari dengan masyarakat, ia mendapati masih ada anak usia sekolah
yang tidak lagi duduk di bangku pendidikan.
Kondisi tersebut menimbulkan rasa keprihatinan di hati Bripka Yohanes Werren, anak-anak
putus sekolah harus kembali percaya bahwa pendidikan adalah jalan menuju kehidupan yang
lebih baik.
"Berawal dari keprihatinan ini, bersama-sama perangkat desa kami memberikan dorongan
agar mereka dapat melanjutkan pendidikan melalui kejar paket. Saya pun tergerak untuk
membimbing mereka mempersiapkan diri ketika hendak ujian," tuturnya.
Dari sinilah Bhabin Aljabar mulai berjalan. Program tersebut mendapat dukungan pemerintah
desa yang turut membantu menghadirkan tempat belajar sederhana di Perpustakaan Desa dan
mengajak anak-anak untuk kembali bersemangat mengejar pendidikan.
Bagi Bripka Yohanes, pendidikan merupakan pintu pembuka masa depan. Ketika seorang
anak kembali memiliki kesempatan belajar, maka peluang untuk mengubah kehidupannya
juga semakin terbuka lebar.
Semangat itulah yang selalu ia tanamkan kepada para peserta didiknya. Ia tidak hanya
mengajarkan pelajaran sekolah, tetapi juga memberikan motivasi agar mereka percaya bahwa
keterbatasan bukan alasan untuk menyerah.
Di sela-sela proses belajar, ia kerap menyampaikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan
yang sama untuk meraih cita-cita selama memiliki kemauan belajar dan bekerja keras.
Pesan-pesan sederhana itu perlahan membangun kembali rasa percaya diri anak-anak yang
sempat kehilangan semangat akibat putus sekolah.
Program Bhabin Aljabar juga menjadi contoh nyata bahwa penyelesaian persoalan
pendidikan membutuhkan kolaborasi semua pihak. Kehadiran polisi, pemerintah desa,
keluarga, dan masyarakat dalam satu tujuan membuktikan bahwa pendidikan merupakan
tanggung jawab bersama.
Sinergi tersebut diharapkan mampu membuka peluang pendidikan yang lebih baik bagi
generasi muda di Desa Pematang Limau. Dengan adanya jalur pendidikan melalui Kejar
Paket A, anak-anak yang sempat kehilangan kesempatan bersekolah tetap memiliki harapan
untuk memperoleh ijazah dan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Optimisme itu terus dijaga oleh Bripka Yohanes Werren. Ia percaya bahwa anak-anak desa
memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan mereka yang menempuh pendidikan formal.
Yang mereka butuhkan hanyalah kesempatan, pendampingan, dan dorongan agar tetap
percaya pada impian mereka.
Dedikasi Bripka Yohanes Werren menjadi bukti bahwa pengabdian seorang anggota Polri
dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Menjaga keamanan memang menjadi tugas utama,
namun menghadirkan harapan melalui pendidikan juga merupakan bagian dari upaya
membangun masyarakat yang lebih baik.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi dunia pendidikan, kisah dari Desa Pematang
Limau menghadirkan secercah inspirasi. Seorang polisi tidak hanya dikenal karena tugasnya
dalam menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga karena kepeduliannya menyalakan
kembali semangat belajar anak-anak yang nyaris kehilangan masa depan.
Melalui Bhabin Aljabar, Bripka Yohanes Werren ingin memastikan bahwa tidak ada mimpi
yang benar-benar berakhir hanya karena seseorang pernah putus sekolah. Selama masih ada
kemauan untuk belajar, selalu ada jalan untuk bangkit dan melangkah menuju masa depan
yang lebih cerah.
Langkah kecil yang dimulai dari sebuah perpustakaan desa kini menjadi harapan besar bagi
generasi muda Desa Pematang Limau. Di balik seragam polisi yang dikenakannya, Bripka
Yohanes Werren membuktikan bahwa pengabdian sejati dapat menumbuhkan harapan baru
mengantarkan anak-anak desa kembali berani bermimpi dan bangkit mengejar cita-cita
melalui pendidikan. (FAHRUL)









