BORNEONEWS, Tamiang Layang – Mahasiswa asal Kabupaten Barito Timur, Joe Christian Yuka, dipercaya menjadi bagian dari tim peneliti Universitas Brawijaya (UB) yang mengembangkan Radio Frequency Identification–Halalan Thayyiban Assurance System (RFID-HTAS), teknologi pelacak halal dan kualitas produk pangan secara real time.
Inovasi tersebut dikembangkan untuk meningkatkan transparansi produk pangan mulai dari proses produksi, penyimpanan, distribusi hingga diterima konsumen.
Joe merupakan lulusan SMA Negeri 1 Tamiang Layang yang saat ini menempuh pendidikan pada Program Studi S1 Teknik Elektro Universitas Brawijaya. Ia saat ini sedang menyelesaikan semester VI.
Putra tunggal pasangan Kariyatus dan Yuliniati yang berdomisili di Jalan Kirab Remaja, Kelurahan Tamiang Layang tersebut mengaku bersyukur mendapat kesempatan bergabung dalam tim riset lintas disiplin yang melibatkan profesor, dosen, peneliti, mahasiswa doktoral dan mahasiswa sarjana.
"Saya sangat bahagia dan bersyukur atas kesempatan ini. Dari berbagai pencapaian selama kuliah, penelitian ini merupakan pengalaman yang paling bermakna bagi saya. Saya juga berterima kasih kepada para profesor, dosen, dan rekan-rekan mahasiswa yang telah membimbing dan mendukung saya. Menjadi bagian dari tim yang mengembangkan teknologi untuk distribusi pangan adalah sebuah kebanggaan," ujar Joe, Selasa, 14 Juli 2026.
RFID-HTAS dikembangkan sebagai jawaban atas meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap transparansi produk pangan.
Melalui teknologi berbasis Radio Frequency Identification (RFID) yang terintegrasi dengan sistem pemantauan digital, kondisi produk dapat dipantau secara langsung sepanjang rantai distribusi sehingga kualitas, keamanan pangan dan prinsip halalan thayyiban tetap terjaga.
Pengembangan inovasi ini merupakan hasil kolaborasi lintas disiplin ilmu di Universitas Brawijaya. Tim peneliti dipimpin Prof. Dr. Sucipto dari Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) UB dengan anggota Dr. Eng. Herman Tolle dari Fakultas Ilmu Komputer UB, Aunur R. Mulyarto, S.TP., M.Sc., Prof. Dr. Siti Asmaul Mustaniroh dari FTAB UB, Cries Avian, S.T., M.T., Ph.D. dari Fakultas Teknik UB, serta Mahmuddin Ridlo sebagai mahasiswa doktoral FTAB UB.
Selain itu, tim juga melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas, yakni Ade Surya Ananda dan Azka Robby Fuady dari FTAB UB, serta Joe Christian Yuka dan Muhammad Irsyad Fariz dari Fakultas Teknik UB.
Kolaborasi tersebut menjadi kekuatan utama dalam mengembangkan sistem pelacak halal real time yang diharapkan dapat diterapkan secara luas pada industri pangan Indonesia.
Dalam tim tersebut, Joe berperan sebagai full-stack developer yang bertanggung jawab membangun sistem digital RFID-HTAS.
Bersama Muhammad Irsyad Fariz, ia mengembangkan perangkat lunak dan antarmuka sistem agar seluruh komponen berbasis Internet of Things (IoT) dapat saling terintegrasi.
"Dalam pengembangan RFID-HTAS, saya berperan sebagai full-stack developer yang bertanggung jawab membangun seluruh sistem website dari alat berbasis Internet of Things (IoT). Saya mengembangkan sisi backend seperti logika server dan basis data, serta frontend sebagai antarmuka pengguna. Selain itu, saya juga terlibat sejak tahap perencanaan konsep, pengadaan komponen, pengembangan sistem, hingga uji coba alat," jelasnya.
Joe mengatakan tantangan terbesar dalam pengembangan teknologi tersebut adalah menghadirkan nilai kebaruan atau novelty agar inovasi memiliki manfaat jangka panjang dan dapat dihilirisasi.
"Tantangan terbesar adalah menemukan nilai kebaruan atau novelty dari teknologi yang kami kembangkan agar memiliki manfaat jangka panjang. Selain itu, kami juga menghadapi tantangan pada proses hilirisasi karena penelitian ini bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Targetnya bukan sekadar menghasilkan penelitian, tetapi menghadirkan teknologi yang benar-benar dapat digunakan dan berpotensi dikomersialkan," ungkapnya.
Saat ini RFID-HTAS telah memasuki tahap pengujian pada lingkungan operasional nyata melalui uji coba di industri pengolahan fillet ikan di Kabupaten Malang.
Hasil pengujian menunjukkan perangkat dan sistem mampu bekerja sesuai rancangan, meski masih memerlukan penyempurnaan pada beberapa aspek teknis.
Teknologi tersebut juga telah mencapai Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) 7, yang menandakan inovasi telah melewati tahap laboratorium dan memasuki fase implementasi di lapangan.
Ke depan, RFID-HTAS berpotensi diterapkan pada rumah potong hewan, industri pengolahan pangan, fasilitas penyimpanan hingga distribusi produk peternakan dan perikanan untuk memperkuat transparansi rantai pasok sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Selain aktif dalam penelitian, Joe juga merupakan Mahasiswa Berprestasi Program Studi S1 Teknik Elektro Universitas Brawijaya, Alumni Artificial Intelligence Talent Factory Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), serta Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa Robotika dan Artificial Intelligence Universitas Brawijaya.
Meski menempuh pendidikan di Malang, Joe mengaku tidak pernah melupakan daerah asalnya. Ia berharap pencapaiannya dapat menjadi motivasi bagi generasi muda Barito Timur untuk terus berprestasi di bidang pendidikan, riset, dan inovasi.
"Bagi saya, pencapaian ini membuktikan bahwa Barito Timur memiliki banyak generasi muda yang mampu berprestasi dan bersaing. Saya berharap ini menjadi motivasi bagi pelajar dan mahasiswa lain, sekaligus menjadi perhatian bagi Pemerintah Kabupaten Barito Timur untuk terus mendukung lahirnya generasi emas daerah melalui pendidikan, riset, dan inovasi," katanya.
Ia juga berpesan kepada pelajar dan mahasiswa di Barito Timur agar tidak pernah merasa minder karena berasal dari daerah.
"Jangan pernah merasa minder hanya karena berasal dari daerah. Sekecil apa pun ide dan kreativitas yang kita miliki, jika terus diasah dengan kerja keras dan konsistensi, pasti bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Teruslah belajar, berkarya, dan manfaatkan setiap kesempatan agar suatu hari nanti kita bisa membawa nama baik Barito Timur di tingkat nasional maupun internasional," katanya. (AGUSTINUS BOLE MALO/R)









