SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Pembangunan jaringan listrik di empat desa yang masih belum menikmati layanan PLN di Kecamatan Bukit Santuai, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), terus dikebut. Pemerintah Kecamatan menargetkan pemasangan tiang listrik di seluruh desa tersebut selesai pada akhir Agustus 2026 agar program Santuai Terang segera terwujud.

Camat Bukit Santuai Saptono mengatakan, empat desa yang masih dalam proses pembangunan jaringan listrik adalah Desa Tumbang Torung, Lunuk Bagantung, Tumbang Tawan, dan Tumbang Saluang.

Ia mengungkapkan, beberapa hari lalu pihaknya turun langsung ke lapangan untuk membantu kelancaran pekerjaan vendor. Bersama PT Agro Bimantara Plantation (ABP), pemerintah kecamatan melakukan perbaikan sejumlah titik jalan dan jembatan agar kendaraan pengangkut tiang listrik dapat mencapai lokasi.

"Kami bersama PT ABP membantu memperbaiki jalan yang rusak dan jembatan yang tidak layak dilalui agar mobilisasi tiang listrik berjalan lancar. Ini dilakukan untuk mempercepat pembangunan jaringan listrik di empat desa tersebut," kata Agus Saptono, Rabu, 15 Juli 2026.

Ia menjelaskan, dukungan PT ABP diberikan atas koordinasi Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur melalui surat permohonan dari Bupati Kotim. Padahal secara wilayah operasional, perusahaan tersebut hanya memiliki kewajiban di Desa Tumbang Batu.

"Desa Tumbang Torung, Lunuk Bagantung, Tumbang Tawan, dan Tumbang Saluang sebenarnya berada di luar desa binaan PT ABP. Namun karena hubungan baik dan demi mendukung program Bupati Kotim mewujudkan Santuai Terang 2026, mereka tetap membantu perbaikan infrastruktur," ujarnya.

Ia menyampaikan apresiasi kepada PT ABP yang dinilai konsisten menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), khususnya dalam pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan.

Sementara itu, dari total 10 desa yang menjadi sasaran program listrik masuk desa tahun ini, sebanyak enam desa telah menyelesaikan pemasangan tiang dan jaringan listrik, yakni Desa Tumbang Batu, Tumbang Sapia, Tewai Hara, Tumbang Payang, Tumbang Kania, dan Tumbang Getas. Saat ini seluruh desa tersebut tinggal menunggu proses pemasangan instalasi ke rumah-rumah warga, bahkan Desa Tumbang Batu telah menyelesaikan seluruh tahapan instalasi.

Untuk empat desa yang masih berproses, pembangunan jaringan telah mencapai Desa Lunuk Bagantung. Sedangkan pengangkutan tiang menuju Desa Tumbang Tawan dan Tumbang Saluang masih menjadi tantangan akibat kondisi jalan yang rusak.

Ia menjelaskan, kerusakan infrastruktur terjadi sejak perusahaan kayu PT Berkat Cahaya Timber (BCT) menghentikan operasional sekitar tiga tahun lalu. Akibatnya, akses menuju dua desa paling ujung tersebut semakin sulit dilalui kendaraan berat.

"Dulu saat PT BCT masih beroperasi jalannya bagus. Sekarang jalannya sudah rusak dan sulit dilewati kendaraan pengangkut tiang listrik. Berkat bantuan PT ABP, persoalan jalan dan jembatan mulai bisa diatasi," bebernya.

Ia menargetkan pemasangan seluruh tiang listrik di empat desa tersebut selesai pada akhir Agustus 2026. Setelah jaringan dan instalasi rumah rampung, jadwal penyalaan listrik akan dikoordinasikan bersama Pemerintah Kabupaten Kotim dan PLN.

Saat ini Kecamatan Bukit Santuai memiliki 14 desa. Empat desa, yakni Tumbang Tilap, Tumbang Kaminting, Tanah Haluan, dan Tumbang Penyahuan, telah lebih dahulu menikmati listrik PLN. Sementara 10 desa lainnya baru mulai mendapatkan jaringan listrik melalui program elektrifikasi tahun 2026.

Selama belum teraliri listrik, masyarakat mengandalkan pembangkit listrik tenaga surya bantuan pemerintah serta genset untuk memenuhi kebutuhan listrik. Kondisi tersebut membatasi pelayanan pendidikan, kesehatan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat karena pasokan listrik tidak stabil dan biaya operasional cukup tinggi.

Karena itu, masyarakat menaruh harapan besar terhadap rampungnya program listrik masuk desa. Selain meningkatkan kualitas pelayanan publik, kehadiran listrik PLN diyakini akan membuka peluang pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk usaha penyimpanan hasil produksi yang membutuhkan peralatan pendingin.

"Kami berharap program Santuai Terang benar-benar terealisasi pada 2026. Listrik akan sangat membantu masyarakat, baik untuk pendidikan, pelayanan kesehatan, maupun meningkatkan perekonomian desa," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)