SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Multazam, memperingatkan bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kotim diperkirakan akan terus meningkat selama beberapa bulan ke depan.

“Kalau mengikuti prediksi BMKG, kondisi panas masih berlangsung sekitar empat sampai lima bulan ke depan. Artinya potensi karhutla juga semakin meningkat,” kata Multazam, Rabu, 15 Juli 2026.

Peringatan ini disampaikan usai pelaksanaan Apel Siaga, Gelar Peralatan, dan Gladi Kesiapsiagaan terhadap Bencana Karhutla Kabupaten Kotim Tahun 2026 yang digelar di halaman parkir Stadion 29 November, Sampit.

Ia menjelaskan, hingga pertengahan Juli, luas lahan yang berhasil ditangani berkisar 145 hektare, sementara jumlah hotspot mencapai sekitar 115 titik, melampaui jumlah hotspot pada bulan Januari.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa data hotspot tidak selalu akurat menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan. Banyak kebakaran di lahan gambut yang tidak terdeteksi oleh satelit karena hanya mendeteksi asap, bukan bara api yang membakar di bawah permukaan.

“Sering kali gambut terbakar di bawah, tetapi hotspot tidak terbaca. Padahal di lokasi masih terjadi kebakaran,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah menangani kebakaran pada lahan gambut yang sulit dipadamkan karena sumber air semakin terbatas. Ia mencontohkan penanganan kebakaran di wilayah Eka Bahurui Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK) yang telah berlangsung hingga 12 hari dengan petugas harus membentangkan selang sepanjang kurang lebih 750 meter untuk mencapai titik api. Akibat penggunaan pompa yang terus-menerus, satu unit pompa mengalami kerusakan.

Melihat komdisi saat ini, ia berharap perusahaan pemegang konsesi di wilayah Kotim dapat mengamankan areanya masing-masing secara optimal agar beban penanganan karhutla tidak sepenuhnya berada di pemerintah.

“Kalau seluruh perusahaan menjaga arealnya dengan baik, penanganan kita akan jauh lebih ringan. Yang paling sulit justru lahan gambut karena air untuk pemadaman sudah sangat terbatas,” ungkapnya.

Selain itu, BPBD Kotim telah mengusulkan penempatan helikopter water bombing di wilayah Kotim. Namun, hingga saat ini, operasi udara prioritas masih dialokasikan di Kabupaten Pulang Pisau sesuai hasil asesmen patroli udara.

Dengan kondisi tersebut, BPBD Kotim terus meningkatkan kesiapsiagaan dan mengimbau masyarakat serta pihak terkait untuk bersama-sama mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan dan lahan agar kerugian akibat bencana ini dapat diminimalisir. (DEVIANA/H)