BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur memperkuat koordinasi lintas sektor untuk menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan serta krisis air bersih selama musim kemarau.
Wakil Bupati Kotawaringin Timur, Irawati, mengatakan kesiapsiagaan melibatkan pemerintah daerah, TNI-Polri, dunia usaha, Masyarakat Peduli Api, dan sejumlah unsur terkait lainnya.
“Hari ini kita melaksanakan apel gabungan siaga bencana karhutla dan kekeringan. Kita berharap sinergi semua pihak semakin kuat untuk melindungi masyarakat Kotim,” kata Irawati di Sampit, Rabu, 15 Juli 2026.
Kotawaringin Timur menjadi kabupaten pertama di Kalimantan Tengah yang menggelar apel siaga karhutla dan kekeringan pada tahun ini.
Langkah tersebut dilakukan karena jumlah titik panas di Kotim tercatat sebagai yang terbanyak kedua di Kalimantan Tengah setelah Kabupaten Pulang Pisau.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika periode Januari hingga Juli 2026, sebanyak 319 titik panas terpantau di Kotim. Sementara luas lahan yang terbakar mencapai 142,98 hektare.
Selain karhutla, Pemkab Kotim mulai menangani kesulitan air bersih yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah. Hingga pertengahan Juli 2026, empat desa telah mengajukan permohonan pendistribusian air bersih.
“Beberapa desa sudah mengirimkan surat permohonan bantuan air bersih. Kami ingin Kotim aman dari karhutla sekaligus terhindar dari krisis air bersih,” ujar Irawati.
Pemerintah daerah telah menggelar rapat koordinasi bersama organisasi perangkat daerah terkait dan Perumdam Tirta Mentaya untuk mempersiapkan distribusi air kepada desa terdampak.
Menurut Irawati, permasalahan air di wilayah selatan Kotim bukan karena tidak tersedianya sumber air. Namun, air tanah di kawasan tersebut berubah menjadi asin saat musim kemarau sehingga tidak layak dikonsumsi.
Kondisi itu diperkirakan dapat menyebabkan bertambahnya desa yang membutuhkan bantuan apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.
Penanganan juga perlu dilakukan untuk melindungi sektor pertanian karena wilayah selatan menjadi salah satu sentra produksi pangan di Kotawaringin Timur.
“Kawasan selatan merupakan salah satu sentra pertanian dan lumbung pangan Kotim. Dampak kekeringan harus diantisipasi agar tidak mengganggu produktivitas masyarakat,” katanya.
Pemkab Kotim sebelumnya telah menetapkan status siaga darurat bencana karhutla selama 180 hari, terhitung sejak 8 April hingga 10 Oktober 2026.
Penetapan status tersebut menjadi dasar penguatan kesiapsiagaan personel, peralatan, koordinasi penanganan titik api, serta langkah antisipasi terhadap dampak kekeringan di wilayah Kotawaringin Timur.









