BORNEONEWS, Jakarta – Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL) bersama International Peace Youth Group (IPYG) menggelar Youth Interfaith Dialogue Training secara daring.
Pelatihan pada Sabtu, 4 Juli 2026, tersebut membekali generasi muda dengan keterampilan membangun dialog lintas agama secara terbuka, saling menghormati, dan berorientasi pada perdamaian.
Kegiatan itu menjadi tahapan lanjutan dari Youth Empowerment Peace Class (YEPC). Peserta terpilih mendapat kesempatan mempraktikkan dialog antarumat beragama sebagai bagian dari pengembangan kepemimpinan perdamaian.
Ketua IPYG Indonesia, Tiurma, mengatakan YEPC dirancang untuk mendorong generasi muda menjadi pemimpin yang mampu membawa perubahan positif di tengah masyarakat.
“Melalui program YEPC, kami ingin membentuk generasi muda menjadi Peace Envoys dan Peace Ambassadors yang dapat mewakili Indonesia,” kata Tiurma sebagaimana rilis diterima pada Kamis, 16 Juli 2026.
Ia berharap semakin banyak pemuda terlibat dalam berbagai kegiatan perdamaian sehingga nilai toleransi, kepedulian, dan hidup berdampingan dapat diwujudkan melalui tindakan nyata.
Pelatihan menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang agama berbeda. Mereka adalah Pembina Komunitas Gurukula, Darmadi, dari agama Hindu, Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Tangerang, Abdullah Ubaid, dari agama Islam, serta pengajar Komunitas Berean, Thomas, dari agama Kristen.
Dalam setiap sesi, peserta diajak memahami perspektif dari kitab suci masing-masing agama tanpa memperdebatkan perbedaan ajaran atau doktrin.
Pendekatan komparatif tersebut digunakan untuk menemukan nilai-nilai universal yang dapat menjadi dasar dalam membangun kehidupan damai di tengah keberagaman.
Darmadi menyampaikan bahwa perdamaian berawal dari kesadaran mengenai hubungan antara manusia, Tuhan, dan seluruh ciptaan.
“Tuhan adalah pemilik segala sesuatu dan hadir dalam setiap bagian dari ciptaan-Nya. Sebagaimana orang tua tidak menginginkan perpecahan di dalam keluarganya, demikian pula Tuhan menghendaki umat manusia hidup dalam persatuan dan saling peduli,” ujarnya.
Sementara itu, Abdullah Ubaid mengajak peserta menyadari kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
“Allah tidak dibatasi oleh ruang, waktu, ataupun dimensi alam semesta. Karena itu, kita hendaknya senantiasa mengingat kebesaran-Nya dan menyadari bahwa Dia selalu bersama kita,” katanya.
Thomas dari perspektif Kristen menilai perdamaian sejati perlu diawali dengan perubahan dalam diri setiap manusia.
“Peperangan sering kali bermula dari konflik di dalam diri manusia. Karena itu, peperangan terbesar dimenangkan bukan melalui kekerasan, melainkan melalui kasih dan firman kebenaran,” jelasnya.
Selama pelatihan, peserta mengikuti diskusi, mengajukan pertanyaan, dan merefleksikan nilai-nilai bersama yang terdapat dalam setiap tradisi keagamaan.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman pemuda mengenai pentingnya dialog yang setara serta memperkuat sikap saling menghormati terhadap perbedaan keyakinan.
Melalui YEPC dan Youth Interfaith Dialogue Training, HWPL serta IPYG berupaya membentuk generasi muda yang mampu menjadi pelopor perdamaian, memperkuat kerja sama lintas komunitas, dan membangun kehidupan harmonis di tengah keberagaman. (*/j)









