BORNEONEWS, Sampit – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Multazam mengungkapkan kondisi titik api di wilayah Kotim saat ini bersifat fluktuatif dengan angka tertinggi di bulan Juli.
Saat ini tercatat lebih dari 300 titik api dengan jumlah terbesar mencapai 115 titik pada bulan Juli, merupakan angka tertinggi sepanjang tahun ini. “Titik api fluktuatif. Terjadi 36 titik, terus ini turun karena sudah dilakukan operasi," katanya, Kamis, 16 Juli 2026.
Ia menyampaikan titik api yang sering terdeteksi satelit biasanya pada malam hari karena percikan warna api. Sementara satelit membaca asap, itu dianggap tidak ada titik api.
Ia menyebut bahwa luas lahan terbakar yang berhasil ditangani hingga saat ini mencapai 105 hektare. Angka tersebut membuat Kotim menjadi kabupaten yang menempati peringkat kedua di Kalimantan Tengah terkait luas lahan yang terbakar setelah Kabupaten Pulang Pisau.
"Tapi kita nomor satu untuk jumlah peristiwa kebakaran hutan dan lahan,” ungkapnya. Multazam memprediksi bahwa dalam beberapa hari ke depan, peristiwa kebakaran hutan dan lahan di Kotim akan semakin parah.
Prediksi ini berdasarkan informasi dari BMKG yang menyatakan akan terjadi musim kemarau panjang dan kondisi udara yang sangat kering.
“Berdasarkan prediksi BMKG, kemarau yang panjang dan kering akan semakin memperburuk kondisi karhutla di wilayah kita,” tuturnya.
BPBD Kotim terus meningkatkan kesiapsiagaan dan memperkuat upaya penanggulangan karhutla dengan memaksimalkan operasi pemadaman dan pemantauan titik api, terutama di wilayah rawan gambut yang sulit terdeteksi serta bekerjasama dengan pihak swasta seperti perusahaan perkebunan kelapa sawit.
“Kami terus berupaya maksimal agar bencana karhutla dapat diminimalisir dampaknya bagi masyarakat dan lingkungan,” pungkas Multazam. (DEVIANA/R)









