BORNEONEWS, Palangka Raya – Pemerintah Kota Palangka Raya memastikan pendidikan anak-anak yang terdampak kebakaran di kawasan Jalan Dr Murjani tetap terjamin agar kegiatan belajar mereka tidak terganggu.
Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya akan memfasilitasi kebutuhan sekolah korban, mulai dari buku pelajaran hingga seragam yang ikut terbakar dalam peristiwa tersebut.
“Untuk buku, seragam sekolah, dan kebutuhan pendidikan anak-anak akan dijamin oleh Dinas Pendidikan,” kata Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin, Kamis, 16 Juli 2026.
Fairid telah meminta ketua rukun tetangga dan lurah melakukan pendataan secara lengkap terhadap seluruh warga terdampak. Pendataan mencakup kebutuhan jangka pendek maupun kebutuhan selama proses pemulihan.
Menurutnya, langkah tersebut diperlukan agar bantuan pemerintah dapat disalurkan sesuai kondisi dan kebutuhan setiap keluarga.
Sebelumnya, Fairid pada Rabu, 15 Juli 2026, meninjau lokasi kebakaran sekaligus menyerahkan bantuan bahan pangan kepada para korban.
Kunjungan bersama sejumlah pejabat Pemerintah Kota Palangka Raya dilakukan untuk memastikan warga mendapatkan dukungan moral, logistik, kesehatan, pendidikan, dan bantuan lainnya.
“Kami ingin memastikan masyarakat yang terdampak mendapatkan perhatian dan bantuan yang dibutuhkan, baik berupa dukungan moral, logistik, maupun bantuan lainnya dari pemerintah,” ujarnya.
Selain kebutuhan pendidikan, Pemkot Palangka Raya menyiapkan bantuan stimulan bagi pemilik rumah yang mengalami kerusakan.
Bantuan sebesar Rp12 juta disiapkan untuk rumah rusak berat, Rp7,5 juta bagi rumah rusak sedang, dan Rp5 juta untuk rumah rusak ringan.
Penyaluran bantuan akan dilakukan sesuai mekanisme dan hasil verifikasi agar tepat sasaran.
Pemkot juga menghadirkan petugas puskesmas untuk memeriksa kesehatan para korban selama masa tanggap darurat.
Sebagian warga saat ini tinggal di lokasi pengungsian. Sementara warga lainnya menumpang sementara di rumah keluarga, kerabat, maupun tetangga.
Pemerintah turut memprioritaskan penerbitan kembali dokumen administrasi kependudukan milik warga yang hilang atau terbakar.
Kebutuhan kesehatan dan asupan gizi anak-anak, terutama balita, juga menjadi perhatian selama masa penanganan darurat.
Kebakaran di kawasan padat penduduk tersebut terjadi pada Jumat, 12 Juni 2026, sekitar pukul 13.10 WIB.
Api menghanguskan puluhan bangunan berbahan kayu, termasuk sebuah madrasah. Peristiwa tersebut berdampak terhadap 46 kepala keluarga atau 132 jiwa dengan nilai kerugian diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar.









