BORNEONEWS, Nanga Bulik – Memasuki hari keempat, kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Kota Nanga Bulik masih menjadi persoalan yang dikeluhkan masyarakat. Antrean kendaraan di sejumlah SPBU belum menunjukkan tanda-tanda berkurang, bahkan kerap memicu kemacetan di ruas jalan sekitar lokasi pengisian.
Pantauan di lapangan pada Kamis, 17 Juli 2026 antrean sepeda motor dan mobil kembali mengular hingga keluar area SPBU. Kondisi tersebut menyebabkan arus lalu lintas berjalan lambat karena kendaraan yang mengantre bercampur dengan pengguna jalan lainnya.
Dampak kelangkaan BBM juga dirasakan para pedagang eceran. Sebagian besar memilih tidak berjualan karena stok kosong, sementara yang masih memiliki persediaan menjual BBM dengan harga lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.
Kesulitan memperoleh BBM membuat sebagian pengendara terpaksa mencari hingga ke beberapa lokasi. Bahkan, ada yang harus menuntun kendaraannya karena kehabisan bahan bakar sebelum menemukan tempat pengisian.
Salah seorang warga, Yuli, mengaku berharap persoalan tersebut segera mendapat penanganan.
"Saya sampai dorong motor karena semua kios eceran kosong. Semoga pasokan BBM segera normal agar masyarakat tidak terus kesulitan," ujarnya.
Kelangkaan BBM dinilai telah mengganggu aktivitas masyarakat, mulai dari perjalanan menuju tempat kerja hingga distribusi barang dan kegiatan usaha yang bergantung pada ketersediaan bahan bakar.
Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab terganggunya pasokan BBM di Nanga Bulik. Masyarakat berharap pihak berwenang segera memberikan kepastian serta mempercepat normalisasi distribusi agar antrean panjang di SPBU dapat segera teratasi. (NATALIA KRISTIN/j)
Antrean panjang di salah satu SPBU Nanga Bulik, Kamis, 17 Juli 2026. (FOTO: ISTIMEWA)









