BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat telah menangani kebakaran hutan dan lahan seluas 113,51 hektare sepanjang Januari hingga pertengahan Juli 2026.
Kebakaran tersebut tercatat terjadi di 63 lokasi dengan 85 titik panas atau hotspot yang terdeteksi di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat.
Pelaksana Tugas Kepala BPBD Kotawaringin Barat, Reneli, mengatakan Kecamatan Arut Selatan, Kumai, dan Kotawaringin Lama menjadi wilayah dengan kejadian karhutla terbanyak.
“Dari luas lahan yang terbakar tersebut, terdapat 63 titik kejadian dan 85 kemunculan hotspot di wilayah Kotawaringin Barat,” kata Reneli di Pangkalan Bun, Jumat, 17 Juli 2026.
Berdasarkan data BPBD, Kecamatan Arut Selatan mencatat 30 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 21,61 hektare.
Sementara Kecamatan Kumai mencatat 25 kejadian dengan luas lahan terbakar 62,65 hektare. Wilayah tersebut menjadi kecamatan dengan luas kebakaran terbesar.
Adapun di Kecamatan Kotawaringin Lama tercatat lima kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 24,5 hektare.
Reneli mengatakan status penanganan karhutla di Kabupaten Kotawaringin Barat hingga kini masih berada pada kategori siaga.
“Hingga saat ini status masih siaga. Perkembangan kondisi di lapangan juga terus kami pantau,” ujarnya.
BPBD Kobar menghadapi sejumlah kendala dalam proses pemadaman, terutama sulitnya akses menuju lokasi kebakaran dan terbatasnya sumber air.
Petugas sering kali harus berjalan kaki dengan membawa peralatan pemadam karena titik api berada jauh dari jalan maupun sumber air.
“Petugas sering menghadapi medan sulit, terutama karena sumber air dan lokasi titik api cukup jauh. Tim harus berjalan kaki sambil membawa peralatan pemadam,” jelas Reneli.
Selain akses yang sulit, sebagian besar kebakaran terjadi di lahan gambut yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dipadamkan.
Api pada lahan gambut dapat menjalar di bawah permukaan tanah sehingga berpotensi kembali muncul meskipun bagian atasnya terlihat telah padam.
Cuaca panas dan angin kencang selama musim kemarau juga menyebabkan api lebih cepat membesar serta sulit dikendalikan.
Reneli menyebut BPBD Kobar bahkan menangani dua hingga tiga kejadian karhutla dalam sehari selama Juli 2026.
“Kondisi cuaca menjadi pemicu api cepat membesar dan sulit dikendalikan. Bulan ini kami menangani dua hingga tiga titik kejadian dalam sehari,” katanya.
Penanganan karhutla dilakukan bersama TNI, Polri, Manggala Agni, perusahaan, relawan, dan berbagai unsur terkait lainnya.
Kolaborasi tersebut diperlukan agar pemadaman dapat dilakukan dengan cepat sekaligus mencegah kebakaran meluas ke wilayah lain.
BPBD Kobar juga terus mengedukasi masyarakat agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
“Upaya ini penting agar karhutla tidak berkembang menjadi bencana kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas ekonomi masyarakat,” pungkas Reneli.









