BORNEONEWS, Sampit – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau para nelayan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) meningkatkan kewaspadaan saat melaut. Pasalnya, tinggi gelombang di perairan Kotim diperkirakan mencapai 1 hingga 1,5 meter selama periode Juli hingga Oktober 2026.
"Ketinggian gelombang itu berkisar antara 1 sampai 1,5 meter itu kalau dikategorikan untuk kapal nelayan sangat berbahaya. Karena sudah di atas 1,5 meter," kata Kepala Stasiun Meteorologi (Stamet) H Asan Kotim Mulyono Leo Nardo, Jumat, 17 Juli 2026.
Ia menjelaskan, peningkatan tinggi gelombang dipengaruhi dominasi angin tenggara atau angin timur yang bertiup lebih kencang dibanding biasanya. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026. Memasuki November, pola angin diprediksi berubah sehingga kondisi perairan juga akan mengalami perubahan.
Ia mengimbau nelayan terus memantau perkembangan cuaca sebelum berangkat melaut. Informasi cuaca terbaru dapat diakses secara real-time melalui layanan BMKG.
"Angin timuran saat ini sudah dominan sehingga berdampak pada meningkatnya tinggi gelombang. Karena itu, nelayan harus selalu memantau informasi cuaca sebelum melaut," ujarnya.
Ia menambahkan, tidak semua jenis kapal memiliki tingkat risiko yang sama. Kapal nelayan berukuran kecil menjadi yang paling rentan terdampak gelombang setinggi 1 hingga 1,5 meter.
"Kalau kapal nelayan kecil, kami mengimbau sebaiknya tidak berlayar dulu ketika kondisi gelombang tinggi seperti ini," tambahnya.
Sementara itu, untuk kapal penumpang seperti Pelni maupun DLU, kondisi gelombang saat ini masih dinilai aman untuk beroperasi.
"Kalau kapal penumpang seperti Pelni maupun DLU masih terhitung aman. Batas peringatan untuk kapal penumpang berada pada tinggi gelombang di atas 2 meter," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









