SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kota Sampit terancam terdampak kabut asap apabila kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus meluas. Kondisi tersebut dipengaruhi arah angin yang saat ini dominan bertiup dari selatan, tenggara, hingga timur.

"Kalau terkait karhutla, kebakaran didominasi di wilayah selatan. Sementara angin sekarang dominan dari selatan, tenggara, dan timur. Jadi jika kebakaran hutan dan lahan banyak terjadi di daerah selatan, kemungkinan besar asapnya akan terbawa ke Kota Sampit. Itu yang kami khawatirkan," kata Kepala Stasiun Meteorologi H Asan Kotim Mulyono Leo Nardo, Jumat, 17 Juli 2026.

Meski demikian, ia memastikan hingga saat ini kondisi cuaca di Kota Sampit masih normal dan belum terpantau adanya kabut asap yang mengganggu jarak pandang.

"Sampai saat ini cuacanya masih clear, masih bagus dan belum terpantau adanya asap di sekitar Sampit," ujarnya.

Ia menjelaskan, kabut asap umumnya lebih sering muncul pada malam hingga pagi hari. Hal itu terjadi karena kecepatan angin cenderung melemah sehingga asap tidak bergerak dan terkumpul di suatu wilayah.

"Kalau anginnya kencang, asap akan terbawa ke daerah lain. Namun saat malam hari angin biasanya lebih tenang sehingga asap menetap dan tidak bisa bergerak ke mana-mana," jelasnya.

Memasuki siang hari, kabut asap biasanya mulai berkurang karena kecepatan angin meningkat sehingga mendorong asap berpindah ke wilayah lain.

"Kabut asap cenderung muncul pada malam sampai pagi. Menjelang siang biasanya mulai berkurang karena dipengaruhi pergerakan angin," katanya.

Lebih lanjut, BMKG memprediksi musim kemarau di Kotim berlangsung dari Juni hingga akhir Oktober 2026. Sedangkan puncak musim kemarau terjadi pergeseran, yang awalnya diperkirakan Agustus bergeser di bulan September. (DEWI PATMALASARI/j)