BORNEONEWS, Palangka Raya – Pemerintah Kota Palangka Raya bersama Yayasan Borneo Nature Indonesia atau YBNI memperkuat kolaborasi dalam pengelolaan lingkungan hidup dan mitigasi perubahan iklim.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama, sekaligus penyerahan 6.900 bibit berbagai jenis tanaman.
Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin mengatakan sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga konservasi merupakan langkah strategis untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.
“Kolaborasi ini memperkuat komitmen bersama dalam pelestarian hutan, rehabilitasi lahan, pengendalian kebakaran hutan dan lahan, hingga pemberdayaan masyarakat dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan,” kata Fairid, Sabtu, 18 Juli 2026.
Menurutnya, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi berbagai persoalan lingkungan. Dukungan lembaga konservasi, masyarakat, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya diperlukan agar program perlindungan alam berjalan optimal.
Kerja sama tersebut juga diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan daerah, pelestarian lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Wakil Wali Kota Palangka Raya Achmad Zaini menambahkan kolaborasi itu sejalan dengan semangat kebersamaan yang diusung dalam rangkaian peringatan hari jadi Kota Palangka Raya.
Keterlibatan lembaga konservasi dinilai dapat memperkuat program pemerintah dalam mewujudkan pembangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Ketua YBNI Pietra Widiadi mengatakan pihaknya menyiapkan 6.900 bibit berbagai jenis tanaman untuk mendukung program penghijauan di Kota Palangka Raya.
YBNI sebagai lembaga konservasi berkomitmen melindungi hutan hujan tropis di Kalimantan Tengah dan sekitarnya dengan melibatkan masyarakat serta memperhatikan kearifan lokal.
Pendekatan berbasis masyarakat tersebut diharapkan dapat menekan kerusakan hutan sekaligus meningkatkan kesadaran warga dalam menjaga sumber daya alam.
Sementara itu, CEO YBNI Anton Nurcahyo menjelaskan bibit yang diserahkan terdiri atas tanaman bernilai ekologis dan ekonomis, seperti petai, matoa, jengkol, asam, serta sejumlah jenis pohon lainnya.
“Pemilihan jenis tanaman disesuaikan dengan ketersediaan bibit, kebutuhan masyarakat, dan karakteristik lahan yang menjadi lokasi penanaman,” ujarnya.
Anton mengatakan kerja sama dengan Pemerintah Kota Palangka Raya tidak hanya difokuskan pada penghijauan, tetapi juga mencakup berbagai program pengelolaan lingkungan.
Program tersebut meliputi penguatan kebijakan publik, pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan, serta pengembangan sistem peringatan dini bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah.
YBNI juga melakukan pendampingan pengelolaan perhutanan sosial bersama Dinas Lingkungan Hidup, salah satunya pada kawasan hutan adat di Mungku Baru.
Meski secara administratif berada di Kabupaten Gunung Mas, pengelolaan kawasan tersebut turut melibatkan masyarakat Kota Palangka Raya. Karena itu, diperlukan sinergi lintas wilayah untuk menjaga kelestariannya.
Selain itu, YBNI mendukung program adaptasi perubahan iklim melalui pengembangan Kampung Iklim atau ProKlim, peningkatan kapasitas masyarakat, serta kegiatan konservasi berbasis komunitas.









