"GERAKAN literasi tidak lahir dari ruang yang ramai, tetapi dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten."
Kabupaten Pulang Pisau menjadi salah satu lokus pelaksanaan Program Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) 2026 yang diinisiasi oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas). Program ini bukan sekadar menghadirkan relawan di tengah masyarakat, tetapi menjadi gerakan nyata untuk memperkuat ekosistem literasi melalui tiga tugas utama, yaitu inventarisasi ruang literasi, advokasi literasi, dan pelaksanaan kegiatan literasi.
Sebagai Relima yang mendapat amanah mendampingi Kabupaten Pulang Pisau, perjalanan dimulai bukan dari ruang kelas atau perpustakaan, melainkan dari ruang-ruang pengambilan kebijakan.
Mengawali Langkah dengan Advokasi
Perjalanan pertama diawali dengan melakukan audiensi ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pulang Pisau. Kehadiran Relima disambut hangat oleh Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan bersama PIC Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) serta Fasilitator Pemerintahan.
Pertemuan tersebut menjadi momentum memperkenalkan Program RELIMA 2026 sekaligus membangun sinergi antara Perpusnas dan pemerintah daerah. Dalam kesempatan itu dijelaskan bahwa Relima memiliki mandat untuk melakukan pendataan ruang literasi, mengadvokasi berbagai pemangku kepentingan, sekaligus menghidupkan berbagai aktivitas literasi di masyarakat.
Dukungan dari Dispursip menjadi modal penting karena keberhasilan gerakan literasi tidak mungkin dibangun oleh relawan seorang diri. Ia membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Langkah berikutnya berlanjut ke Dinas Pendidikan Kabupaten Pulang Pisau. Sambutan yang diberikan tidak kalah positif. Bahkan Dinas Pendidikan menyatakan kesiapannya memfasilitasi koordinasi dengan berbagai organisasi pendidikan seperti KKG, MKKS, Gugus TK, SD, SMP hingga SMA/SMK agar program literasi dapat menjangkau lebih banyak satuan pendidikan.
Komitmen tersebut menunjukkan bahwa literasi mulai dipandang sebagai tanggung jawab bersama, bukan semata-mata urusan perpustakaan.
Menyusuri Ruang-Ruang Literasi
Usai membangun komunikasi dengan pemerintah daerah, perjalanan Relima berlanjut ke lapangan. Perpustakaan sekolah, perpustakaan desa, taman bacaan masyarakat, hingga perpustakaan rumah ibadah menjadi tujuan berikutnya.
Di setiap lokasi, kegiatan inventarisasi dilakukan menggunakan instrumen yang telah disiapkan Perpusnas. Pendataan ini bukan sekadar mencatat jumlah perpustakaan, melainkan menjadi bagian penting dalam mendukung penyusunan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) sebagai dasar penyusunan kebijakan literasi nasional.
Namun di balik proses pendataan, terdapat banyak cerita yang membuka mata.
Masih banyak pengelola perpustakaan sekolah yang belum memahami tata kelola perpustakaan secara baik. Tidak sedikit pula kepala sekolah yang belum mengetahui amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, yang mengharuskan sekolah mengalokasikan minimal 10 persen dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP/BOS) Reguler untuk pengadaan buku dan pengembangan perpustakaan.
Padahal, ketentuan tersebut merupakan fondasi penting untuk meningkatkan kualitas koleksi, layanan perpustakaan, dan budaya baca peserta didik.
Temuan-temuan seperti inilah yang menunjukkan bahwa tantangan literasi bukan hanya soal rendahnya minat baca, tetapi juga masih terbatasnya pemahaman mengenai pengelolaan perpustakaan sebagai pusat belajar.
Menghidupkan Perpustakaan Melalui Kegiatan Literasi
Perjalanan Relima tidak berhenti pada pendataan dan advokasi.
Di berbagai sekolah dan ruang baca, kegiatan literasi mulai dihidupkan bersama guru, pengelola perpustakaan, siswa, serta masyarakat.
Membaca bersama, pendampingan belajar, diskusi buku, hingga berbagai inovasi sederhana dilaksanakan dengan memanfaatkan ruang perpustakaan sebagai pusat aktivitas.
Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar sekolah sebenarnya telah memiliki program literasi. Namun pelaksanaannya masih didominasi kegiatan yang bersifat rutin dan kurang bervariasi sehingga belum mampu menghadirkan pengalaman membaca yang menyenangkan.
Melalui pendampingan, Relima berupaya memperkenalkan berbagai model kegiatan yang lebih kreatif dan partisipatif. Perpustakaan tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat meminjam buku, melainkan menjadi ruang bertumbuh, berdiskusi, berkarya, dan belajar bersama.
Di situlah semangat Transformasi Perpustakaan benar-benar terasa.
Literasi Adalah Gerakan Bersama
Perjalanan sebagai Relima mengajarkan satu hal penting: membangun budaya baca tidak dapat dilakukan secara instan.
Diperlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, perpustakaan, komunitas, guru, orang tua, hingga masyarakat.
Relawan hadir sebagai penghubung yang mempertemukan berbagai pihak agar tujuan besar tersebut dapat diwujudkan bersama.
Setiap perpustakaan yang berhasil diinventarisasi, setiap sekolah yang mulai memahami pentingnya pengelolaan perpustakaan, setiap guru yang terinspirasi menghadirkan kegiatan literasi yang lebih kreatif, serta setiap anak yang mulai menikmati membaca merupakan capaian yang mungkin tidak selalu terlihat dalam angka, tetapi memberikan dampak nyata bagi masa depan.
Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang Relima bukan diukur dari seberapa jauh ia melangkah, melainkan dari seberapa banyak semangat literasi yang berhasil ia nyalakan di setiap ruang baca yang dikunjunginya.
Literasi adalah investasi peradaban. Dan setiap langkah kecil Relima hari ini merupakan bagian dari perjalanan panjang menuju Indonesia yang lebih cerdas, lebih berbudaya baca, dan lebih bermartabat.
Penulis: Nopiar Rahman (Kak Nono) adalah Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) 2026 Lokus Kabupaten Pulang Pisau









