BORNEONEWS, Sampit - Pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus dikebut dan ditargetkan selesai pada 9 September 2026. Saat ini, progres pembangunan telah mencapai hampir 80 persen.
"Memang ini di-adendum oleh Kementerian PU selama dua bulan. Sampai 9 September pelaksanaannya harus sudah selesai. Di Kalimantan Tengah ada dua kabupaten yang pembangunan SRT-nya belum selesai 100 persen, yaitu Kotim dan Gunung Mas," kata Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Kotim M Fahrizal Rahmani, Senin, 20 Juli 2026.
Ia menjelaskan, berdasarkan laporan dari pelaksana, progres pembangunan saat ini telah mendekati 80 persen. Sejumlah bagian bangunan, termasuk pemasangan atap dan dinding, sudah dikerjakan.
Pemerintah daerah berharap gedung serbaguna dapat segera difungsikan karena menjadi fasilitas penting untuk mendukung pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) maupun berbagai aktivitas siswa.
"Progres pembangunannya menurut keterangan pelaksana sudah hampir 80 persen. Makanya dimaksimalkan agar gedung serbaguna bisa difungsikan karena sangat dibutuhkan untuk pelaksanaan MPLS dan kegiatan siswa," ujarnya.
Fahrizal menyebutkan, pihak pelaksana proyek telah menyatakan kesanggupannya menyelesaikan pembangunan sesuai tenggat waktu yang diberikan. Pemerintah daerah juga terus melakukan pemantauan langsung ke lokasi untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai jadwal.
"Komitmennya mereka sanggup menyelesaikan karena sudah diberi tenggat waktu. Terakhir kami meninjau ke lapangan, atap sudah terpasang dan dinding juga sudah dikerjakan. Mudah-mudahan bisa selesai tepat waktu," katanya.
Penyelesaian gedung permanen dinilai semakin mendesak karena jumlah peserta didik Sekolah Rakyat Kotim bertambah. Pada tahun ajaran 2026/2027, sebanyak 270 siswa baru akan diterima, meningkat dari 100 siswa pada tahun sebelumnya.
Meski demikian, proses perpindahan seluruh siswa ke gedung permanen belum dapat dilakukan. Untuk sementara, pelaksanaan MPLS hanya diperuntukkan bagi 270 siswa baru yang akan menempati lokasi permanen, sedangkan 100 siswa angkatan sebelumnya tetap belajar di sekolah rintisan hingga pembangunan benar-benar selesai.
"Untuk saat ini MPLS fokus kepada 270 siswa baru. Sedangkan 100 siswa di sekolah rintisan tetap belajar di sana sampai pembangunan gedung baru selesai, baru kemudian dilakukan pengalihan ke lokasi permanen," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)









