PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng) mencatat total luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah setempat mencapai 11,5 hektare dengan 26 kejadian, sejak penetapan status siaga karhutla pada 1 Juni 2026 hingga akhir pekan lalu.

"Sebaran kejadian karhutla terjadi di wilayah Kecamatan Jekan Raya, Pahandut dan Sabangau," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satria Budi, di Palangka Raya, Senin.

Dia mengemukakan, di Kecamatan Jekan Raya tercatat 21 kejadian dengan luas 9,05 hektare, Kecamatan Pahandut empat kejadian dengan luas lahan terbakar 0,92 haktare dan Kecamatan Sabangau satu kejadian dengan luas 1,55 haktare.

Budi menjelaskan kebakaran terjadi pada lahan milik masyarakat yang dibuka dan diduga sengaja dibiarkan terbakar. Selain itu, sejumlah titik api juga ditemukan di kawasan rawa yang kerap menjadi lokasi aktivitas masyarakat, seperti memancing, sehingga menyulitkan akses tim pemadam menuju lokasi.

Budi mencontohkan kebakaran yang terjadi di kawasan Danau Rangas beberapa waktu lalu dengan luas lahan cukup besar. Tim pemadam darat harus menempuh jarak hampir satu kilometer untuk mencapai titik api sehingga upaya penanganan memerlukan dukungan tambahan.

"Pada kejadian itu, kami juga berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah untuk meminta bantuan water bombing agar proses pemadaman dapat dilakukan lebih cepat," ujarnya.

Menurut Budi, kejadian karhutla tidak terlepas dari unsur kesengajaan sehingga pihaknya terus berkoordinasi dengan Polresta Palangka Raya untuk menindak pelaku pembakaran lahan. BPBD melakukan pelacakan lokasi kejadian dan menyerahkan data pendukung kepada aparat penegak hukum sebagai bagian dari proses penindakan.

"Kita harus memberikan efek jera kepada pelaku pembakaran lahan. Data dan hasil pelacakan kejadian kami serahkan kepada aparat untuk ditindaklanjuti," katanya.

Ia menambahkan kondisi karhutla di Palangka Raya masih relatif terkendali meski wilayah setempat hampir tiga pekan tidak turun hujan. Kelembapan tanah, terutama di kawasan gambut, masih cukup baik sehingga pemadaman, termasuk melalui jalur udara, masih efektif dilakukan.

"Berbeda jika lahan gambut sudah benar-benar kering, maka potensi kebakaran akan lebih besar dan penanganannya menjadi lebih sulit," katanya.

Dalam penanganan karhutla, BPBD Kota Palangka Raya berkolaborasi dengan sejumlah instansi, seperti Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah dan BPBD Kalteng, relawan serta pihak terkait lain dalam upaya deteksi dini dan penanganan karhutla.

Budi mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar karena berpotensi memicu karhutla yang lebih luas. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar pemadaman dapat dilakukan sedini mungkin.

"Kami berharap masyarakat ikut berperan aktif mencegah karhutla dengan tidak membakar lahan dan segera melapor jika ada kejadian kebakaran," kata Budi.

ANTARA