BORNEONEWS, Palangka Raya – Otoritas Jasa Keuangan Kalimantan Tengah bersama Bursa Efek Indonesia memperluas pelaksanaan Sekolah Pasar Modal dengan menyasar berbagai komunitas di masyarakat.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, khususnya pemahaman masyarakat mengenai investasi serta produk pasar modal.
Kepala OJK Kalimantan Tengah Primandanu Febriyan Aziz mengatakan Sekolah Pasar Modal sebelumnya telah dilaksanakan dengan menyasar mahasiswa Universitas Darwan Ali di Sampit.
Kegiatan edukasi kemudian diperluas kepada komunitas sepeda di Kota Palangka Raya melalui agenda Palangka Raya Bersepeda yang dilaksanakan pada Sabtu, 18 Juli 2026.
“Sekolah Pasar Modal merupakan salah satu upaya berkelanjutan untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat di bidang pasar modal,” katanya, Senin, 20 Juli 2026.
Menurutnya, komunitas menjadi salah satu sasaran strategis karena memiliki jaringan anggota yang luas dan dapat membantu menyebarkan informasi mengenai pengelolaan keuangan secara lebih efektif.
Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai perencanaan keuangan, pengelolaan pengeluaran, investasi, serta cara memilih produk dan layanan pasar modal yang legal dan aman.
Asisten Manajer Bidang Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Pelindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis OJK Kalimantan Tengah Noor Bima Haru Kurniawan mengibaratkan pengelolaan keuangan seperti menjaga kebugaran tubuh melalui olahraga.
Menurutnya, kesehatan fisik maupun finansial sama-sama membutuhkan kedisiplinan dan kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.
“Bersepeda mengajarkan pentingnya menjaga kebugaran melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten. Prinsip yang sama juga berlaku dalam menjaga kesehatan finansial,” jelasnya.
Ia mengatakan kondisi keuangan yang sehat dapat dibangun melalui perencanaan yang matang, pengelolaan pengeluaran secara disiplin, serta investasi rutin yang disesuaikan dengan kemampuan.
Kegiatan berlangsung interaktif dan mendapat respons positif dari para peserta. Mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdiskusi mengenai pengelolaan keuangan, risiko investasi, serta berbagai instrumen yang tersedia di pasar modal.
Antusiasme peserta dinilai menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya literasi keuangan sebagai dasar dalam mengambil keputusan finansial.
Melalui kolaborasi OJK, BEI, dan komunitas, masyarakat diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pasar modal.
Masyarakat juga diimbau hanya menggunakan produk investasi yang legal, berada di bawah pengawasan otoritas, serta sesuai dengan tujuan dan profil risiko masing-masing.









