BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dalam Kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), belakangan semakin panjang. Kondisi tersebut dikeluhkan masyarakat karena menyulitkan mereka memperoleh BBM untuk kebutuhan sehari-hari.
Selain masyarakat yang memang membutuhkan bahan bakar untuk kendaraan, keberadaan pelangsir BBM disebut ikut memperparah kondisi antrean sehingga barisan kendaraan mengular hampir setiap hari.
Salah seorang warga Pangkalan Bun, Iman, Selasa, 21 Juki 2026 mengaku semakin kesal dengan kondisi tersebut. Menurutnya, warga yang benar-benar membutuhkan BBM justru harus menghabiskan waktu lama untuk mengantre.
"Mau antre di SPBU, antreannya panjang. Sedangkan saya perlu bahan bakar untuk kebutuhan keseharian," kata Iman.
Ia menuturkan, sebagian masyarakat akhirnya memilih membeli BBM eceran meski harus membayar jauh lebih mahal. Saat ini harga BBM eceran berkisar antara Rp19.000 hingga Rp20.000 per liter, seiring naiknya harga Pertamax menjadi Rp16.650 per liter.
Menurutnya, banyak warga yang sebelumnya menggunakan Pertalite terpaksa beralih membeli Pertamax karena antrean Pertalite sudah terlalu panjang. Namun, kondisi itu kini juga berdampak pada antrean Pertamax yang ikut memanjang.
"Padahal banyak warga yang terpaksa beli Pertamax walaupun harganya sudah naik karena antrean pengguna Pertalite sudah sangat panjang. Sekarang antrean Pertamax juga ikut panjang," ujar Iman.
Iman mengatakan dirinya sempat mendengar informasi bahwa Pemkab Kobar telah melakukan audiensi dengan pihak Pertamina untuk membahas persoalan distribusi BBM. Namun hingga kini, menurutnya, kondisi di lapangan belum menunjukkan perubahan yang berarti.
"Menurut informasi kemarin Pemkab Kobar sudah melakukan audiensi dengan pihak Pertamina, namun hasilnya tetap saja antrean di SPBU masih panjang," unar Iman.
Ia berharap pemerintah daerah bersama Pertamina dapat segera menemukan solusi agar distribusi BBM kembali normal dan masyarakat tidak terus dibebani biaya lebih tinggi akibat harus membeli BBM eceran.
"Sebagai warga kami tentunya berharap agar ini bisa diatasi, karena pasti sangat memberatkan warga bila terpaksa beli di eceran," pungkasnya. (WAHYU KRIDA/y)









