BORNEONEWS, Palangka Raya - Industri kelapa sawit Indonesia tidak hanya mencatat kenaikan volume ekspor pada semester pertama 2026, tetapi juga mengalami peningkatan nilai ekspor seiring menguatnya harga minyak sawit mentah atau CPO dunia.
Sekretaris Eksekutif GAPKI Kalimantan Tengah, Dr. Ir. Rawing Rambang, MP, menyampaikan berdasarkan Siaran Pers GAPKI Pusat, nilai ekspor kelapa sawit Indonesia selama Januari–Mei 2026 mencapai US$15,526 miliar.
"Angka tersebut meningkat 13,82 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang tercatat sebesar US$13,641 miliar," kata Rawing kepada Borneonews pada Selasa, 21 Juli 2026.
Peningkatan nilai ekspor tersebut didukung oleh membaiknya harga CPO di pasar internasional. Rata-rata harga CPO di Rotterdam sepanjang Januari–Mei 2026 mencapai US$1.417 per ton, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang berada di level US$1.186 per ton.
Rawing menilai kenaikan harga dan nilai ekspor menjadi sinyal positif bagi industri sawit nasional. Kondisi tersebut diharapkan mampu memberikan dampak terhadap penerimaan devisa negara maupun aktivitas ekonomi di daerah-daerah sentra perkebunan sawit.
"Kami berharap kinerja kelapa sawit hingga akhir semester kedua tahun 2026 tetap menunjukkan tren positif. Sawit akan terus menjadi salah satu penyumbang devisa negara sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan bangsa," kata Rawing. (TESTI PRISCILLA/H)









