PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pekan Riset Sawit Indonesia atau PERISAI dinilai memberikan pengalaman berharga bagi kalangan akademisi dalam melihat perkembangan riset sekaligus peluang implementasi hasil penelitian untuk menjawab kebutuhan industri, masyarakat, dan pemerintah.

Akademisi bidang kehutanan dan lingkungan hidup, Prof Rahmawaty, mengatakan keikutsertaannya selama dua hari dalam PERISAI memberikan banyak wawasan mengenai perkembangan penelitian terbaru di sektor kelapa sawit.

Menurutnya, forum tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk memperoleh informasi terkait riset sawit, tetapi juga mempertemukan peneliti, pelaku industri, pemerintah, dan pemangku kepentingan untuk membahas berbagai tantangan serta peluang penelitian yang masih terbuka.

“Diskusi yang berlangsung antara peneliti, pelaku industri, dan pemangku kepentingan memberikan gambaran nyata mengenai tantangan dan peluang penelitian yang masih terbuka,” ujar Prof Rahmawaty kepada Borneonews pada Selasa, 21 Juli 2026.

Dari kegiatan tersebut, ia mengaku memperoleh banyak inspirasi untuk mengembangkan riset multidisiplin yang dapat mendukung pengelolaan perkebunan kelapa sawit secara berkelanjutan. Sejumlah bidang yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan antara lain kehutanan, konservasi keanekaragaman hayati, perubahan iklim, rehabilitasi lahan, pengelolaan limbah, hingga ekonomi sirkular.

Selain itu, penerapan teknologi geospasial dan kecerdasan buatan juga dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung pengelolaan perkebunan sawit yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Prof Rahmawaty menilai pendekatan multidisiplin diperlukan untuk menjawab kompleksitas tantangan dalam pengembangan industri kelapa sawit. Menurutnya, penguatan riset harus mampu mengintegrasikan aspek produktivitas industri dengan kepentingan lingkungan dan keberlanjutan sumber daya alam.

Ia berharap forum seperti PERISAI dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi media strategis untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan kapasitas riset yang dimiliki perguruan tinggi dan lembaga penelitian.

“Pengalaman mengikuti kegiatan ini semakin memotivasi saya untuk menghasilkan penelitian yang inovatif, aplikatif, serta memberikan kontribusi nyata bagi pengelolaan sumber daya alam, pembangunan kehutanan, dan pelestarian lingkungan hidup di Indonesia,” katanya. (TESTI PRISCILLA/H)