SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotawaringin Timur (Kotim) mengingatkan masyarakat agar tidak menunda membawa anggota keluarga, terutama balita, ke fasilitas kesehatan saat mengalami diare. 

Kepercayaan terhadap mitos dan pengobatan tradisional tanpa penanganan medis dinilai masih menjadi penyebab keterlambatan pertolongan yang dapat berakibat fatal.

"Sebagian masyarakat sudah sadar dan cepat menolongnya. Tetapi ada sebagian budaya yang masih mempengaruhi kondisi masyarakat, apalagi menunggu dari orang yang tertua di situ. Jadi kalau bilang orang tua di situ disembur dulu atau diobat kampung dulu, mereka ngikut itu. Itu yang menimbulkan jadi keterlambatan pertolongan," kata Kepala Dinas Kesehatan Kotim Umar Kaderi melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Nugroho Kuncoro Yudho, Selasa, 21 Juli 2026.

Ia menjelaskan, salah satu mitos yang masih dipercaya masyarakat adalah anggapan bahwa diare pada bayi merupakan tanda anak akan mulai berjalan, sehingga tidak perlu segera mendapatkan penanganan medis.

"Lebih faktor kepercayaan. Mitos-mitos biasanya orang diare, anak bayi diare itu identik dengan mau berjalan," ujarnya.

Padahal, menurut Nugroho, diare dapat menyebabkan dehidrasi, terutama pada bayi dan balita. Karena itu, masyarakat diminta segera membawa ke fasilitas kesehatan apabila buang air besar cair terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu berdekatan.

"Satu, kalau memang terjadi diare, bisa dilihat dulu kalau sampai dalam waktu berdekatan terjadi diare sampai tiga kali atau lebih, segera bawa ke fasilitas kesehatan. Yang kedua, setiap diare harus segera ada penggantian cairan. Jadi harus minum lebih banyak, baik itu oralit atau larutan gula garam, itu minimal. Jangan sampai terlambat kalau ada diare. Kalau sudah lemas baru dibawa, itu sudah terlambat. Jadi sebelum lemas, langsung dibawa ke fasilitas kesehatan," tegasnya.

Dinas Kesehatan Kotim mencatat sebanyak 3.852 kasus diare terjadi sepanjang Januari hingga Juli 2026. Meski peningkatannya tidak signifikan, penyakit tersebut menjadi perhatian serius karena telah menyebabkan satu balita di Kecamatan Mentaya Hulu meninggal dunia akibat terlambat mendapatkan penanganan medis.

Saat ini, tiga kecamatan yang menjadi perhatian karena kasus diare yaitu Mentawa Baru Ketapang, Baamang, dan Cempaga. Selain itu, wilayah selatan Kotim juga dinilai rawan mengalami peningkatan kasus diare setiap musim kemarau karena keterbatasan air bersih.

"Kalau wilayah Selatan memang setiap kali musim kemarau pasti rawan. Karena stok air bersih di sana lebih cenderung menggunakan air hujan, dan biasanya musim kemarau stok air hujan menipis. Kemudian air laut naik sehingga kandungan garam sering masuk ke sungai. Jadi air sungai itu terkontaminasi air laut," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/J)