JAKARTA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Hasil penelitian di sektor kelapa sawit diharapkan tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat diimplementasikan dan dihilirisasi untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, industri, dan pembangunan nasional.

Hal tersebut disampaikan akademisi bidang kehutanan dan lingkungan hidup, Prof Rahmawaty, setelah mengikuti Pekan Riset Sawit Indonesia atau PERISAI yang diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP selama dua hari pada 20-21 Juli 2026. Menurutnya, kegiatan tersebut membuka peluang kolaborasi antara peneliti, praktisi, pemerintah, dan dunia usaha.

Prof Rahmawaty mengatakan, kesempatan berdiskusi secara langsung dengan berbagai pemangku kepentingan dalam PERISAI memperluas jejaring kolaborasi sekaligus membuka peluang kerja sama penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

“Kesempatan untuk berdiskusi secara langsung membuka peluang terbangunnya kerja sama penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga hilirisasi hasil riset melalui skema business matching,” ujar Prof Rahmawaty kepada Borneonews pada Rabu, 22 Juli 2026.

Menurut dia, kolaborasi lintas sektor menjadi langkah penting untuk memastikan hasil penelitian dapat diterapkan dalam menjawab persoalan yang dihadapi industri dan masyarakat. Dengan demikian, riset yang dihasilkan perguruan tinggi maupun lembaga penelitian tidak hanya berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki dampak langsung bagi pembangunan.

Ia menambahkan, pengembangan industri kelapa sawit harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Karena itu, pendekatan berbasis sains dan inovasi teknologi perlu terus diperkuat dalam pengelolaan sektor sawit.

“Pendekatan berbasis sains, inovasi teknologi, dan kolaborasi lintas sektor merupakan kunci dalam mewujudkan industri sawit yang produktif, berdaya saing, sekaligus berkelanjutan,” katanya.

Dalam konteks tersebut, Prof Rahmawaty melihat peluang pengembangan riset pada berbagai bidang, mulai dari konservasi keanekaragaman hayati, perubahan iklim, rehabilitasi lahan, pengelolaan limbah, ekonomi sirkular, hingga pemanfaatan teknologi geospasial dan kecerdasan buatan.

Ia berharap PERISAI dapat menjadi agenda yang terus berkelanjutan dan semakin memperkuat hubungan antara dunia riset dan industri. Menurutnya, pertemuan antara kebutuhan industri dan kapasitas riset akan mempercepat proses hilirisasi inovasi sekaligus menghasilkan solusi yang lebih aplikatif.

“PERISAI menjadi media yang efektif untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan kapasitas riset perguruan tinggi dan lembaga penelitian,” pungkasnya. (TESTI PRISCILLA/y)