BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP mendorong percepatan hilirisasi hasil penelitian agar inovasi di sektor kelapa sawit tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat memberikan dampak nyata bagi kemajuan industri dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman, mengatakan arah kebijakan BPDP ke depan adalah mempertemukan kebutuhan industri atau market pull, inovasi atau technology push, serta kebutuhan masyarakat. Menurutnya, sinergi ketiga aspek tersebut penting untuk membangun ekosistem riset yang mampu menghasilkan solusi aplikatif bagi sektor sawit.
“Arah BPDP ke depan adalah mempertemukan kebutuhan industri (market pull), inovasi (technology push), dan kebutuhan masyarakat. Melalui PERISAI, kami ingin mempercepat hilirisasi hasil penelitian agar inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi memberikan dampak nyata bagi kemajuan industri dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Eddy dalam kegiatan Pekan Riset Sawit Indonesia atau PERISAI 2026 pada 20-21 Juli 2026.
Menurut Eddy, posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia harus diikuti dengan kemampuan menjadi pemimpin dalam inovasi dan teknologi. Hal tersebut dinilai penting di tengah berbagai tantangan yang dihadapi industri sawit, mulai dari perubahan iklim, digitalisasi, pengembangan bioekonomi, hingga tuntutan terhadap praktik industri yang semakin berkelanjutan.
Ia menegaskan, riset merupakan investasi strategis bangsa yang memiliki peran penting dalam menentukan produktivitas dan daya saing industri kelapa sawit Indonesia pada masa mendatang. Karena itu, penguatan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, peneliti, dunia usaha, hingga masyarakat perlu terus dilakukan.
“Riset merupakan investasi strategis bangsa yang akan menentukan produktivitas dan daya saing industri sawit di masa depan,” katanya.
Upaya memperkuat ekosistem riset tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026. Kegiatan yang mengusung tema “Shaping the Palm Oil Industry Ecosystems for a Sustainable Future” ini diikuti sekitar 1.300 peserta dari berbagai unsur.
Peserta tersebut berasal dari kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, pelaku industri, asosiasi, investor, pekebun, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
Selama dua hari penyelenggaraan, PERISAI 2026 menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari seminar nasional, talkshow, business matching, Grant Riset Showcase, Kompetisi Inovasi Riset Mahasiswa, pameran hasil riset dan teknologi, demonstrasi teknologi, hingga exhibition.
Pameran tersebut diikuti berbagai perusahaan, perguruan tinggi, lembaga penelitian, startup, dan mitra industri. Kehadiran berbagai pihak dalam satu forum diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi dan mempercepat proses hilirisasi hasil riset dari tahap penelitian menuju penerapan di lapangan.
Melalui PERISAI 2026, BPDP berharap terbangun ekosistem kolaborasi yang semakin kuat antara kebutuhan industri, kemampuan inovasi teknologi, dan kepentingan masyarakat. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong industri sawit Indonesia agar semakin produktif, berdaya saing, inovatif, dan mampu tumbuh secara berkelanjutan. (TESTI PRISCILLA/y)









