SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Bandara H Asan Sampit ditargetkan meraih predikat Bandara Sehat pada tahun 2028. Target tersebut diawali dengan pembentukan Forum Bandara Sehat yang melibatkan berbagai instansi dan pemangku kepentingan sebagai bentuk komitmen bersama meningkatkan standar kesehatan, keselamatan, dan kesiapsiagaan di kawasan bandara.

Kepala Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas II Sampit I Gusti Ayu Agung Darmawati mengatakan, pembentukan Forum Bandara Sehat telah ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama seluruh stakeholder.

Setelah forum terbentuk, tahapan berikutnya adalah melaksanakan asesmen atau penilaian mandiri untuk mengukur kesiapan Bandara H Asan Sampit dalam memenuhi seluruh indikator Bandara Sehat.

"Setelah terbentuknya forum Bandara Sehat, kita akan menindaklanjuti dengan pelaksanaan asesmen. Dari hasil penilaian mandiri itu nanti akan diketahui apa saja yang masih harus dilengkapi agar pada tahun genap 2028 Bandara H Asan Sampit dapat diusulkan sebagai Bandara Sehat," kata Darmawati, Rabu, 22 Juli 2026.

Hasil asesmen akan menjadi dasar penyusunan langkah-langkah perbaikan sehingga seluruh persyaratan dapat dipenuhi sebelum proses pengusulan dilakukan pada 2028.

Sementara itu, Staf Ahli Bupati Kotawaringin Timur Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM) Muslih menyatakan, pemerintah daerah mendukung penuh upaya mewujudkan Bandara H Asan Sampit sebagai Bandara Sehat.

"Kami mendorong kepada seluruh OPD terkait yang terlibat dalam tim ini untuk berperan aktif dalam kegiatan tim dalam menyiapkan Bandara Sehat," ujarnya.

Ia juga mengapresiasi inisiatif BKK Kelas II Sampit yang menggelar rapat koordinasi penyusunan dokumen rencana kontinjensi dan pembentukan Forum Bandara Sehat. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam menghadapi ancaman penyakit menular.

Muslih menilai pengalaman pandemi Covid-19 menjadi pelajaran penting bahwa bandara bukan hanya berfungsi sebagai pintu gerbang transportasi dan perekonomian, tetapi juga memiliki potensi menjadi jalur masuk penyebaran penyakit apabila tidak diantisipasi secara maksimal.

"Belajar dari pengalaman Covid-19, peran bandara sangat penting. Selain menjadi penggerak perekonomian, bandara juga berpotensi menjadi pintu masuk penyebaran penyakit menular apabila tidak diantisipasi dengan baik," tambahnya.

Karena itu, penyusunan dokumen rencana kontinjensi dinilai penting agar seluruh instansi memiliki pedoman yang sama dalam menghadapi berbagai kondisi darurat, khususnya potensi wabah penyakit yang masuk melalui transportasi udara.

Ia menegaskan keberhasilan pencegahan tidak hanya bergantung pada pengelola bandara, tetapi juga memerlukan kesiapan seluruh instansi yang terlibat sesuai tugas dan fungsinya.

"Dengan adanya kegiatan ini, kita membuktikan kesiapan bersama untuk menghadapi berbagai kemungkinan, khususnya penyakit menular yang berpotensi masuk ke wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur," ujarnya.

Muslih berharap seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), instansi vertikal, pengelola Bandara H Asan Sampit, serta seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat koordinasi dan menjalankan peran masing-masing sehingga target menjadikan Bandara H Asan Sampit sebagai Bandara Sehat pada 2028 dapat terwujud. (DEWI PATMALASARI/R)