BORNEONEWS, Sampit – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat empat kasus kematian bayi akibat keterlambatan penanganan saat menderita diare pada tahun 2026.
"Untuk diare memang ada peningkatan walaupun tidak signifikan, tetapi tetap kami waspadai. Dibanding beberapa waktu lalu memang angkanya sedikit lebih tinggi," kata Kepala Dinkes Kotim Umar Kaderi melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Nugroho Kuncoro Yudho, Rabu, 22 Juli 2026.
Diare dapat berakibat fatal apabila penderita terlambat mendapatkan penanganan medis. Kondisi tersebut menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan hingga mengalami dehidrasi.
"Kalau diare terlambat ditangani, kekurangan cairan atau dehidrasi bisa menyebabkan kematian," ujarnya.
Ia mengungkapkan, empat korban meninggal akibat diare sepanjang tahun ini seluruhnya merupakan bayi. Kasus tersebut terjadi pada awal tahun, dengan rincian satu bayi dari Kecamatan Teluk Sampit, satu di Kecamatan Pulau Hanaut, dan dua di Kecamatan Mentaya Hulu.
Korban termuda yang meninggal akibat diare merupakan bayi berusia 7 hari asal Kuala Kuayan, Kecamatan Mentaya Hulu. Sementara tiga korban lainnya masing-masing berusia 3 bulan, 6 bulan, dan 7 bulan.
"Kasus kematian itu terjadi sebelum musim kemarau. Penyebab utamanya karena terlambat mendapatkan pertolongan. Diare itu berkembang sangat cepat. Saat cairan tubuh sudah banyak hilang, meskipun sudah diberikan infus kadang tidak bisa tertolong karena dehidrasinya sudah berat," ujarnya.
Ia mengatakan seluruh kelompok usia berisiko terkena diare. Namun, bayi dan balita menjadi kelompok yang paling rentan karena cenderung diam dan tidak nafsu makan.
"Kalau secara rentangnya semua orang rentan. Tetapi kalau pada bayi balita, karena biasanya kalau sakit itu kan cenderung diam dan tidak mau makan, jadi diare pada bayi balita ini lebih berbahaya," katanya.
Selain faktor kesehatan, ia menilai keterlambatan penanganan juga masih dipengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap kepercayaan dan mitos yang berkembang.
Ia menyebut masih ada keluarga yang memilih menunggu saran orang yang dituakan atau melakukan pengobatan kampung sebelum membawa anak ke fasilitas kesehatan.
"Sebagian masyarakat sudah sadar dan cepat menolongnya. Tetapi ada sebagian budaya yang masih mempengaruhi kondisi masyarakat, apalagi menunggu dari orang yang tertua di situ. Jadi kalau bilang orang tua di situ disembur dulu atau diobat kampung dulu, mereka mengikuti itu. Itu yang menimbulkan jadi keterlambatan pertolongan," imbuhnya.
Menurutnya, salah satu mitos yang masih dipercaya adalah anggapan bahwa diare pada bayi merupakan tanda anak akan mulai berjalan sehingga tidak perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
Dinkes Kotim mengimbau masyarakat agar segera membawa anggota keluarga, terutama bayi dan balita, ke puskesmas atau rumah sakit apabila mengalami diare yang disertai buang air besar berulang, muntah, atau tanda-tanda kekurangan cairan. Penanganan dini dinilai menjadi kunci untuk mencegah kematian.
Sebagai informasi secara keseluruhan, data Dinkes Kotim minggu pertama hingga minggu ke-28 tahun ini mencatat 3.852 kasus diare terjadi di wilayah tersebut. Tiga kecamatan dengan kasus yang cukup tinggi yakni Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Baamang, dan Cempaga. (DEWI PATMALASARI/j)









