SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, mengingatkan sektor pertanian Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sebagai salah satu yang paling terdampak selama musim kemarau panjang. Penurunan curah hujan ikut menyebabkan cadangan air tanah menipis, sehingga petani disarankan menyesuaikan pola tanam guna menghadapi kondisi tersebut.

“Untuk petani sebaiknya memilih jenis tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan atau tanaman yang kebutuhan airnya lebih sedikit agar tetap bisa bertahan selama musim kemarau,” katanya, Kamis, 23 Juli 2026.

Ia menjelaskan bahwa Kotim kini resmi memasuki musim kemarau yang diperkirakan berlangsung sejak Juni hingga akhir Oktober atau sekitar lima bulan, termasuk durasi yang cukup panjang dibanding beberapa tahun sebelumnya.

“Kalau dihitung mulai Juni sampai akhir Oktober, kurang lebih lima bulan. Ini termasuk cukup panjang dibanding beberapa tahun terakhir,” ujar Mulyono.

Menurutnya, panjangnya musim kemarau tahun ini sangat dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang intensitasnya meningkat menuju kategori kuat. Kondisi tersebut membuat curah hujan semakin berkurang sehingga kemarau terasa lebih panjang dan kering.

“Tahun ini kita menghadapi musim kemarau yang diperkuat oleh fenomena El Nino. Dampaknya kemarau menjadi lebih kering dan berlangsung lebih lama,” jelas Mulyono.

Selain itu, pergerakan angin yang didominasi dari sektor selatan hingga tenggara turut memperkuat kondisi kering di Kotim. Angin dari arah tersebut membawa massa udara dengan kandungan uap air yang relatif minim, sehingga peluang hujan semakin kecil.

Imbauan ini menjadi perhatian penting bagi pelaku pertanian untuk dapat merencanakan dan menjalankan aktivitas budidaya secara adaptif sehingga dapat meminimalisir risiko gagal panen yang disebabkan kekeringan. (DEVIANA/y)