BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pada perdagangan Senin (9/1/2017), harga minyak sawit menguat lebih dari 1 persen, yang merupakan kenaikan pertama dalam empat sesi terakhir.

Kenaikan itu dipacu ekspektasi ekspor sawit Malaysia akan meningkat sementara produksi tetap rendah.

Kemudian, perusahaan survei Intertek Testing Services and Societe Generale de Surveillance akan merilis data pengapalan minyak sawit untuk 10 hari pertama Januari, dan Malaysian Palm Oil Board (MPOB) akan merilis data ekspor untuk Desember. Dari rilis data ini para pelaku pasar berharap ada momentum untuk melanjutkan penguatan harga minyak sawit.

Futures minyak sawit untuk kontrak Maret, 1FCPOc3, di Bursa Malaysia Derivatives Exchange menanjak 1,2 persen menjadi 3.112 ringgit ($695,42) per ton pada penutupan perdagangan kemarin, demikian data yang dilansir Reuters.

"Para pelaku pasar melakukan aksi beli sebelum rilis data dari MPOB. Ketersediaan stok sangat rendah dan banyak yang berharap kinerja ekspor meningkat pada Januari," kata seorang pelaku pasar dari Kuala Lumpur.

"Perkiraan pada umumnya adalah kinerja ekspor bulan ini lebih baik, tapi produksi belum meningkat sesuai yang diharapkan. Pasokan di Indonesia juga sangat terbatas. Jadi untuk level support sepertinya di 3.100 ringgit," imbuhnya.

Stok minyak sawit Malaysia tampaknya akan turun untuk kali pertama dalam empat pekan pada Desember seiring dengan melambannya produksi.

Sedangkan ekspor sepertinya akan turun sekitar 4 persen pada Desember, tapi meningkat pada Januari menjelang perayaan Tahun Baru Imlek di Tiongkok pada akhir bulan ini.

Harga minyak sawit kemungkinan naik menjadi 3.128 ringgit per ton setelah berhasil menembus level resistance di 3.089 ringgit, kata analis pasar komoditas di Reuters, Wang Tao. (NEDELYA RAMADHANI/m)