BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Para pelaku pasar di pasar komoditas saat dihadapkan pada dua kondisi yang saling berlawanan. Di satu sisi, harga minyak sawit menguat pada Senin (9/1/2017), tapi pada saat yang sama harga kedelai melemah di India.
Jika pelaku pelaku pasar di bursa komoditi Malaysia berharap akan membaiknya data ekspor minyak sawit dari negeri jiran itu, diperkirakan akan diterjemahkan dalam aksi beli pada perdagangan Selasa ini (10/1/2017). Dengan begitu, harga minyak sawit bisa melanjutkan penguatannya setelah sehari sebelumnya berhasil mencatat rebound, yang merupakan kenaikan pertama dalam empat sesi terakhir.
Berbeda halnya dengan bursa komoditi India, yang diwarnai oleh melemahnya harga biji kedelai setelah rilis data ekspor kedelai negeri itu yang melimpah lebih dari dua kali lipat pada Desember, yang mengindikasikan tingginya pasokan di pasar lokal.
Berdasarkan data Reuters, futures biji kedelai untuk kontrak Januari, NSBF7, ditutup turun 1,1 persen di National Commodity & Derivatives Exchange Ltd menjadi 2.994 rupee ($43,91). Sedangkan futures minyak kedelai untuk kontrak Januari, NSOF7, melemah 0,2 persen menjadi 724,60 rupee per 10 kg hingga pukul 12.05 GMT.
Untuk futures minyak kanola kontrak Januari, NRSF7, bergerak mendatar di level 4.295 rupee di tengah sepinya transaksi.
Biasanya, kinerja perdagangan yang lesu di pasar komoditas global akan direspons negatif oleh pelaku pasar di pasar komoditas lainnya, termasuk mereka yang 'bermain' komoditas minyak sawit.
Sebelumnya, pada perdagangan Senin, harga minyak sawit menguat lebih dari 1 persen, yang merupakan kenaikan pertama dalam empat sesi terakhir. Kenaikan itu dipacu ekspektasi ekspor sawit Malaysia akan meningkat sementara produksi tetap rendah.
Kemudian, perusahaan survei Intertek Testing Services and Societe Generale de Surveillance akan merilis data pengapalan minyak sawit untuk 10 hari pertama Januari, dan Malaysian Palm Oil Board (MPOB) akan merilis data ekspor untuk Desember. Dari rilis data ini para pelaku pasar berharap ada momentum untuk melanjutkan penguatan harga minyak sawit.
Futures minyak sawit untuk kontrak Maret, 1FCPOc3, di Bursa Malaysia Derivatives Exchange menanjak 1,2 persen menjadi 3.112 ringgit ($695,42) per ton pada penutupan perdagangan kemarin, demikian data yang dilansir Reuters.








