PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Tingginya harga elpiji subsidi 3 kilogram di tingkat pengecer dikeluhkan sejumlah ibu rumah tangga di Kota Palangka Raya. Mereka mengaku harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari karena harga di beberapa pengecer mencapai sekitar Rp45.000 per tabung.

Kondisi tersebut dirasakan cukup memberatkan, terutama bagi keluarga yang mengandalkan penghasilan harian. Tidak sedikit warga yang berharap dapat memperoleh elpiji dengan harga sesuai ketentuan pemerintah melalui pangkalan resmi maupun operasi pasar.

Salah seorang ibu rumah tangga di kawasan Jalan G. Obos, Selmi mengaku pengeluaran rumah tangganya meningkat akibat mahalnya harga elpiji di tingkat eceran. 

Menurutnya, ketika stok di pangkalan sulit diperoleh, membeli di pengecer menjadi satu-satunya pilihan meski harganya jauh lebih tinggi.

"Kalau di eceran bisa sampai Rp45 ribu. Mau tidak mau kami beli karena gas merupakan kebutuhan sehari-hari untuk memasak. Harapannya stok di pangkalan selalu tersedia sehingga kami bisa membeli dengan harga yang lebih murah," ujarnya, Kamis 22 Juli 2026.

Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya, Ria yang menilai tingginya harga elpiji membuat mereka harus mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan lain agar anggaran rumah tangga tetap seimbang.

"Ya, terpaksa harus diakalin lah supaya kebutuhan didapur tercukupi. Biasanya beli telur 1 tabak sekarang mampu beli beli eceran beberapa butir," bebernya.

Ria akui kehadiran operasi pasar elpiji dalam kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) pun disambut antusias masyarakat. Dengan harga Rp22.000 per tabung sesuai ketentuan di pangkalan resmi, merasa sangat terbantu karena dapat menghemat pengeluaran rumah tangga di tengah masih tingginya harga elpiji di tingkat eceran.

"Ya, ini sambil bawa tabung kosong dan fotokopi identitas diri untuk jaga-jaga supaya dapat harga murah elpiji disini," tambahnya. (MARINI)