BORNEONEWS, Sebatik – Pulau Sebatik memiliki posisi yang unik sekaligus strategis. Pulau di wilayah perbatasan ini terbagi antara Indonesia dan Malaysia, dengan bagian selatan masuk wilayah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Bagian Indonesia di Pulau Sebatik mencakup lima kecamatan, yakni Sebatik, Sebatik Barat, Sebatik Tengah, Sebatik Timur, dan Sebatik Utara.
Dari sejumlah titik di pulau tersebut, gedung-gedung di Tawau, Sabah, Malaysia, dapat terlihat di seberang. Jarak yang dekat membuat hubungan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat kedua wilayah telah berlangsung sejak lama.
Kondisi geografis tersebut menjadikan Sebatik sebagai salah satu kawasan strategis yang membutuhkan perhatian khusus dari negara.
Selain pembangunan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, kehadiran aparat keamanan menjadi unsur penting dalam menjaga batas wilayah dan kedaulatan Indonesia.
Di tengah dinamika kehidupan masyarakat perbatasan, prajurit Korps Marinir TNI Angkatan Laut menjalankan tugas menjaga keamanan pesisir sekaligus memperkuat kehadiran negara di wilayah terdepan.
Patroli rutin dilakukan di kawasan pantai, dermaga tradisional, dan sejumlah jalur yang dinilai rawan digunakan untuk aktivitas lintas batas secara ilegal.
Langkah itu dilakukan untuk mencegah penyelundupan barang, peredaran narkotika, perdagangan ilegal, serta kegiatan lain yang berpotensi mengganggu keamanan dan kedaulatan negara.
Di bawah pimpinan Komandan Satgasmar Pam Puter XXX Kapten Marinir Ahmad Rizwan, prajurit melaksanakan pemeriksaan kapal, patroli patok laut, dan pemantauan patok batas darat.
Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan keamanan wilayah, mengawasi aktivitas pada jalur perbatasan, dan menjaga keutuhan tanda batas negara.
Menurut keterangan satgas, terdapat sekitar 144 patok yang menandai garis perbatasan Indonesia dan Malaysia di kawasan Sebatik.
Korps Marinir bersama Satgas Pengamanan Perbatasan Yonkav 13/SL TNI Angkatan Darat serta satuan lainnya berkolaborasi menjaga wilayah dari berbagai potensi pelanggaran.
Prajurit Marinir secara khusus menjaga kawasan pesisir dan pintu keluar-masuk melalui jalur laut.
Dermaga kecil yang menjadi jalur mobilitas masyarakat ikut dipantau untuk mengantisipasi masuknya barang terlarang, termasuk narkotika dan minuman beralkohol ilegal.
Barang yang dibawa melalui jalur tersebut diperiksa sesuai prosedur. Petugas juga mengecek identitas masyarakat yang datang maupun meninggalkan wilayah Sebatik melalui dermaga tradisional.
Pemeriksaan dilakukan untuk mencegah keluar-masuknya pelintas yang tidak memiliki dokumen resmi.
Karakteristik wilayah Sebatik yang didominasi perairan membuat kemampuan mobilitas laut dan operasi amfibi Korps Marinir menjadi salah satu kekuatan dalam menjalankan tugas pengamanan.
Menjaga Kedaulatan dengan Pendekatan Humanis
Tugas prajurit Marinir di Pulau Sebatik ternyata tidak hanya berkaitan dengan patroli, pemeriksaan kapal, dan penjagaan batas negara.
Kehadiran mereka juga dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Prajurit kerap menjalankan peran lebih luas dengan membantu berbagai kebutuhan warga. Istilah “apa lu butuh, gue ada” atau “palugada” seakan menggambarkan aktivitas mereka di wilayah penugasan.
Kedekatan yang terbangun selama bertahun-tahun membuat masyarakat tidak ragu menghubungi prajurit ketika membutuhkan pertolongan.
Telepon genggam Kapten Marinir Ahmad Rizwan hampir tidak pernah sepi dari pesan maupun panggilan warga.
Pada suatu kesempatan, seorang warga menghubungi satgas karena membutuhkan donor darah golongan AB. Saat itu, persediaan darah dengan golongan tersebut tidak tersedia di fasilitas kesehatan setempat.
Rizwan kemudian menanyakan kepada seluruh anggota mengenai siapa yang memiliki golongan darah sesuai kebutuhan pasien.
Tidak membutuhkan waktu lama, seorang prajurit menawarkan diri untuk mendonorkan darahnya.
Prajurit bintara kesehatan juga rutin memberikan penyuluhan dan pelayanan kesehatan sederhana kepada masyarakat, terutama warga lanjut usia.
Mereka mendatangi rumah warga untuk memberikan edukasi kesehatan dan membantu penanganan ketika terdapat masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
Pernah seorang lanjut usia mengalami luka terbuka pada kaki akibat terkena pecahan kaca hingga kesulitan berjalan.
Keluarganya kemudian menghubungi prajurit Marinir. Personel kesehatan segera mendatangi rumah warga tersebut, memberikan penanganan, dan membantu perawatan hingga kondisinya membaik.
Permintaan bantuan masyarakat terkadang juga berkaitan dengan kebutuhan sederhana.
Prajurit pernah diminta membantu memetik buah mangga karena pemilik rumah telah lanjut usia dan tidak mampu lagi memanjat pohon.
Pada kesempatan lain, mereka diminta hadir di sekolah untuk mengajar, memberikan motivasi, serta menyampaikan penyuluhan kepada para pelajar.
Berbagai aktivitas tersebut menunjukkan bahwa menjaga kedaulatan tidak selalu dilakukan dengan senjata dan patroli.
Kedaulatan juga diperkuat melalui hubungan yang dekat, rasa percaya, dan pelayanan kepada masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan.
Tantangan pengamanan Sebatik bukan hanya berasal dari kondisi geografis, tetapi juga dinamika sosial serta tingginya mobilitas masyarakat lintas wilayah.
Karena itu, pendekatan persuasif dan humanis menjadi bagian penting dalam setiap pelaksanaan tugas.
Pendekatan tersebut membuat keberadaan Satgas Marinir diterima dengan baik oleh masyarakat.
Sebagai bentuk kedekatan, warga terkadang memberikan hasil kebun, beras, buah-buahan, maupun ikan kepada prajurit secara sukarela.
Hubungan yang erat juga terlihat pada sore hari. Lapangan bola voli di kompleks markas komando kerap ramai digunakan prajurit dan masyarakat untuk berolahraga bersama.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan jarak yang jauh dari pusat pemerintahan, kehadiran prajurit menjadi salah satu simbol hadirnya negara di wilayah terdepan.
Menjaga kedaulatan di Pulau Sebatik tidak hanya diwujudkan melalui patroli patok batas, pemeriksaan jalur laut, dan pengawasan aktivitas lintas negara.
Upaya tersebut juga berlangsung di rumah warga, ruang kelas sekolah, fasilitas kesehatan, lapangan olahraga, hingga kebun-kebun masyarakat.
Dari Pulau Sebatik, prajurit menunjukkan bahwa pertahanan negara dapat dibangun melalui ketegasan dalam menjaga batas sekaligus kepedulian terhadap masyarakat yang hidup di beranda terdepan Indonesia.
ANTARA









