KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas – Kondisi jembatan penghubung di Desa Tamban Baru Selatan Kilometer 19, Kecamatan Tamban Catur, Kabupaten Kapuas, yang ambruk pada Minggu, 26 Juli 2026, ternyata sudah lama dikeluhkan warga. Menurut warga setempat, Muhay, jembatan tersebut memang telah berusia tua dan kondisinya semakin lapuk.

"Jembatan itu sudah berumur sekitar 30 tahun. Sudah tidak layak lagi. Kalau menahan beban di atas dua ton sudah tidak mampu, kalau sekitar satu ton masih bisa," ujar Muhay kepada Borneonews.

Ia mengatakan, konstruksi jembatan terbuat dari kayu ulin dan menjadi salah satu akses utama masyarakat. Meski masih dapat dilalui kendaraan ringan seperti sepeda motor dan mobil, warga selama ini harus berhati-hati karena kondisi jembatan sudah mengalami penurunan kualitas.

Menurut Muhay, sebelum ambruk, jembatan lebih sering dilintasi kendaraan ringan seperti mobil pikap yang mengangkut bahan bangunan maupun hasil perkebunan. Truk bermuatan besar umumnya tidak rutin melintas di jalur tersebut.

"Biasanya mobil pikap yang membawa alat bangunan, semen, atau sawit. Tidak sering dilewati truk besar," katanya.

Ia menduga jembatan ambruk sesaat setelah dilintasi sebuah truk. Beruntung, kendaraan tersebut sempat berhasil melewati bagian jembatan sebelum seluruh konstruksi di bagian tengah runtuh.

"Pas truk lewat langsung ambruk. Tapi truk itu sempat menyelamatkan diri, jadi tidak ikut jatuh ke bawah," ungkapnya.

Muhay juga berharap pemerintah segera membangun jembatan permanen di lokasi tersebut. Menurutnya, karena merupakan jalan utama yang menghubungkan wilayah Kabupaten Kapuas dengan Kalimantan Selatan, jembatan kayu tersebut seharusnya sudah lama diganti dengan konstruksi beton agar lebih aman bagi masyarakat. (SABRIANOOR/H)