PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Terkadang sebuah peristiwa sederhana justru menjadi awal lahirnya gagasan besar. Itulah yang tergambar dalam kegiatan silaturahmi antara PT Poly Energy Stock Indonesia, PT Madina Karya Utama atau MadKU, dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama atau PWNU Provinsi Kalimantan Tengah yang berlangsung pada Sabtu, 25 Juli 2026.

Di tengah suasana santai tersebut, Direktur Utama PT Poly Energy Stock Indonesia, Camelia Eka Susanti mencairkan suasana dengan sebuah candaan ringan yang mengundang tawa seluruh peserta.

"Kalimantan adalah salah satu penghasil batu bara terbesar di Indonesia, tetapi hari ini kita justru bertemu karena listrik sedang padam. Mungkin bukan batu baranya yang kurang, tetapi ini menjadi pengingat bahwa sudah saatnya kita mulai mempersiapkan masa depan energi yang lebih beragam," katanya seperti dalam rilis yang diterima Borneonews pada Senin, 27 Juli 2026.

Candaan tersebut disambut gelak tawa para peserta dan menjadi pembuka diskusi yang semakin hangat mengenai pentingnya transformasi energi di Indonesia. Momen sederhana itu sekaligus menjadi simbol bahwa tantangan hari ini dapat menjadi inspirasi untuk menghadirkan solusi bagi masa depan.

Pertemuan dipimpin oleh Hafidzah Munfaati, Direktur Utama PT Madina Karya Utama, bersama jajaran PT Poly Energy Stock Indonesia yang diwakili oleh Mr. Wang Baoan selaku Komisaris Utama dan Camelia Eka Susanti selaku Direktur Utama.

Rombongan diterima langsung oleh Ketua Tanfidziyah PWNU Kalimantan Tengah, DR. H.M. Wahyudie F. Dirun, S.P., M.M., didampingi Rais Syuriah KH. Drs. Chairuddin Halim, Katib Syuriah KH. Abdul Wahid Aha, S.H., beserta jajaran pengurus PWNU Kalimantan Tengah.

Dalam sambutannya, Mr. Wang Baoan menyampaikan bahwa Poly Energy memiliki komitmen jangka panjang untuk membangun kemitraan strategis bersama Nahdlatul Ulama dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.

Perusahaan menyatakan kesiapan untuk berinvestasi pada berbagai sektor prioritas, mulai dari energi terbarukan, pertambangan, infrastruktur, teknologi ketahanan pangan, hingga pengembangan pendidikan.

Salah satu fokus utama yang diperkenalkan adalah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), baik untuk skala utilitas maupun kebutuhan kawasan industri dan pertambangan. Menurut Mr. Wang Baoan, energi bersih akan menjadi salah satu fondasi utama pembangunan ekonomi masa depan Indonesia.

Camelia Eka Susanti menambahkan bahwa investasi Poly Energy tidak hanya berorientasi pada keuntungan bisnis semata, tetapi juga pada pembangunan masyarakat.

Menurutnya, Kalimantan Tengah memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, mulai dari batu bara, emas, bauksit, hingga berbagai komoditas strategis lainnya. Potensi tersebut harus dikelola secara profesional dengan tetap mengedepankan keberlanjutan lingkungan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kesejahteraan masyarakat lokal.

Lebih jauh, Camelia menegaskan bahwa masa depan investasi tidak cukup hanya mengandalkan eksploitasi sumber daya alam.

"Investasi terbaik adalah investasi yang meninggalkan ilmu pengetahuan, teknologi, lapangan kerja, dan masa depan bagi generasi berikutnya," tuturnya.

Pernyataan tersebut memperoleh apresiasi dari Ketua Tanfidziyah PWNU Kalimantan Tengah, DR. H.M. Wahyudie F. Dirun. Beliau menceritakan pengalamannya mengunjungi beberapa provinsi di Tiongkok dan menyaksikan langsung kemajuan teknologi, pendidikan, serta pembangunan industrinya.

Dirinya berharap pengalaman tersebut dapat dihadirkan di Kalimantan Tengah melalui transfer teknologi, investasi yang bertanggung jawab, dan pengembangan sumber daya manusia sehingga masyarakat dapat menikmati manfaat pembangunan secara nyata.

Sementara itu, Rais Syuriah KH. Drs. Chairuddin Halim menyatakan dukungannya terhadap pengembangan sektor pertambangan yang dilakukan secara profesional, transparan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dalam sesi diskusi, muncul pula gagasan penting mengenai pengembangan pendidikan. Para pengurus NU mengusulkan agar perguruan tinggi Nahdlatul Ulama membuka program studi atau fakultas baru di bidang Teknologi Energi Terbarukan agar mampu mencetak tenaga ahli lokal yang siap menghadapi kebutuhan industri masa depan.

Usulan tersebut mendapat sambutan positif dari Poly Energy. Perusahaan menyatakan kesiapannya untuk menjajaki berbagai bentuk kolaborasi, termasuk penyediaan teknologi, pelatihan, pertukaran pengetahuan, hingga peluang kerja sama pendidikan dengan institusi di Tiongkok.

Diskusi berlangsung sangat dinamis. Berbagai gagasan berkembang tidak hanya mengenai investasi, tetapi juga mengenai pemberdayaan masyarakat, hilirisasi sumber daya alam, pengembangan industri hijau, ketahanan pangan modern, serta peningkatan kualitas pendidikan sebagai fondasi pembangunan jangka panjang.

Menjelang akhir acara, Hafidzah Munfaati menegaskan bahwa seluruh investasi yang akan dikembangkan harus berpihak kepada masyarakat.

"Investasi yang berhasil adalah investasi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kekayaan alam Kalimantan harus menjadi berkah bagi rakyatnya, menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi daerah, dan membangun masa depan generasi berikutnya," katanya.

Sebagai penutup, Poly Energy menyerahkan cendera mata dan bantuan kepada ratusan santri serta anak yatim piatu yang hadir. Suasana penuh haru dan kebahagiaan menyelimuti acara, yang kemudian ditutup dengan seluruh peserta menyanyikan lagu kebanggaan Nahdlatul Ulama, "Yalal Wathan", sebagai simbol persatuan, cinta tanah air, dan semangat membangun bangsa. (TESTI PRISCILLA/j)