BORNEONEWS, Washington – Militer Amerika Serikat dilaporkan mulai menyeleksi rudal dan pesawat nirawak Iran yang harus dihancurkan guna menghemat persediaan amunisi pertahanan udara.
NBC News melaporkan kebijakan tersebut berdasarkan keterangan dua pejabat senior Amerika Serikat yang mengetahui pelaksanaan operasi militer di kawasan Timur Tengah.
Para komandan disebut mengizinkan sebagian rudal dan pesawat nirawak serang Iran melewati sistem pertahanan udara apabila proyektil tersebut tidak dinilai mengancam keselamatan personel militer Amerika Serikat.
Namun, seluruh proyektil yang diperkirakan mengarah ke lokasi personel tetap menjadi prioritas untuk dicegat.
Dalam sejumlah kasus, rudal maupun pesawat nirawak yang mengarah ke area tanpa personel dilaporkan dibiarkan melintas meskipun berpotensi merusak infrastruktur pangkalan.
Langkah itu disebut dilakukan untuk menghemat stok rudal pencegat yang digunakan dalam intensitas tinggi selama konflik dengan Iran. Laporan lain dari CBS News menyebut laju penggunaan rudal Patriot, Terminal High Altitude Area Defense atau THAAD, dan senjata berpemandu presisi telah menimbulkan kekhawatiran di lingkungan pemerintahan Amerika Serikat.
CBS melaporkan sebagian persediaan rudal pencegat digunakan lebih cepat dibandingkan kemampuan industri pertahanan untuk menggantinya.
Kondisi itu menjadi pertimbangan karena Amerika Serikat harus tetap mempertahankan kesiapan militernya untuk menghadapi potensi konflik di wilayah lain.
Meski demikian, Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Mike Waltz membantah laporan bahwa persediaan amunisi negaranya semakin menipis.
Dalam wawancara dengan program Meet the Press NBC News, Minggu, 26 Juli 2026, Waltz meminta masyarakat tidak mempercayai informasi yang berasal dari kebocoran internal tersebut.
Ia bahkan mengatakan pihak yang membocorkan informasi mengenai kondisi persediaan amunisi seharusnya diproses secara hukum.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menunda peningkatan operasi militer terhadap Iran untuk memberikan ruang bagi jalur diplomasi.
Kekhawatiran terhadap persediaan rudal pencegat menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan pejabat militer, meskipun Washington menyatakan kemampuan untuk melanjutkan operasi tetap tersedia.
Amerika Serikat dan Iran telah menghentikan serangan untuk sementara setelah hampir dua pekan mengalami peningkatan konflik.
Namun, jeda serangan tersebut belum menandakan berakhirnya konflik karena perundingan mengenai keamanan kawasan dan Selat Hormuz masih berlangsung.
Hingga kini, Pentagon belum mengumumkan secara terbuka jumlah persediaan rudal pencegat maupun rincian perubahan prosedur intersepsi terhadap serangan Iran.
ANTARA/SPUTNIK









