PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Musim kemarau tidak hanya identik dengan cuaca panas dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga menjadi musim berbuah bagi tanaman ramu, salah satu buah khas hutan Kalimantan yang mulai banyak dijumpai di Kota Palangka Raya dan sekitarnya.

Buah musiman ini memiliki cara penyajian yang unik. Daging buahnya diseduh menggunakan air, kemudian didiamkan selama beberapa menit hingga teksturnya lembut sebelum dinikmati. Cita rasanya yang khas membuat buah ramu selalu dinantikan masyarakat saat musim kemarau.

Salah seorang warga Palangka Raya, Yuni, mengatakan buah ramu sudah menjadi hidangan musiman yang selalu dicari keluarganya setiap tahun.

"Kalau musim kemarau begini biasanya buah ramu mulai banyak dijual. Rasanya segar dan cara makannya juga unik, cukup diseduh air lalu didiamkan beberapa menit sebelum dinikmati," ujarnya, Senin 27 Juli 2026.

Hal senada disampaikan Andi, warga lainnya, yang mengaku sengaja membeli buah ramu karena hanya dapat ditemukan pada musim tertentu.

"Buah ini tidak ada sepanjang tahun, jadi kalau sudah musim pasti kami beli, harga mulai 35 ribu perkilogram. Selain enak, buah ramu juga menjadi bagian dari kekayaan kuliner tradisional Kalimantan yang perlu dilestarikan," katanya.

Ia berharap keberadaan buah-buah hutan khas Kalimantan, termasuk ramu, tetap terjaga melalui pelestarian hutan. Menurutnya kekayaan alam tersebut tidak hanya menjadi sumber pangan musiman, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Kalimantan yang patut diwariskan kepada generasi muda. (MARINI/R)