PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Upaya konservasi orangutan di Pulau Salat tidak hanya berdampak pada perlindungan keanekaragaman hayati, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS.

Penyediaan pakan bagi orangutan yang menjalani proses rehabilitasi di Pulau Salat melibatkan 12 kelompok masyarakat yang tergabung dalam BUMDes Penyang Karuhey. Kelompok-kelompok tersebut secara rutin memasok berbagai jenis buah dan pakan alami yang dibutuhkan orangutan selama menjalani proses rehabilitasi.

Perwakilan SSMS, Angga Sanggraha, mengatakan kemitraan tersebut menjadi bagian penting dari upaya perusahaan mengintegrasikan konservasi lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, kemitraan penyediaan pakan tidak hanya membantu menjamin ketersediaan pakan secara berkelanjutan bagi orangutan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi kelompok masyarakat yang terlibat.

Sejak bermitra dengan SSMS, rata-rata pendapatan kelompok masyarakat meningkat dari sekitar Rp400 ribu menjadi Rp18 juta per tahun.

Peningkatan tersebut menciptakan sumber penghasilan baru yang berkelanjutan sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam mendukung upaya konservasi orangutan.

“Bagi SSMS, ESG bukan sekadar komitmen perusahaan, tetapi menjadi nilai yang harus diwujudkan bersama seluruh mitra. Melalui kolaborasi dengan BOS Foundation, APKSM, BUMDes Berkah Mulya Jaya, dan BUMDes Penyang Karuhey, kami ingin menunjukkan bahwa praktik perkebunan kelapa sawit yang bertanggung jawab dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga habitat orangutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan,” ujar Angga dalam rilisnya pada Selasa, 28 Juli 2026.

Ia menambahkan, kolaborasi tersebut mencerminkan implementasi strategi environmental, social, and governance (ESG) SSMS yang mengintegrasikan perlindungan keanekaragaman hayati, pemberdayaan masyarakat, serta tata kelola kemitraan yang bertanggung jawab.

Pada aspek environmental, perusahaan mendukung konservasi orangutan serta perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi. Sementara pada aspek social, SSMS memperkuat kapasitas pekebun swadaya sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat desa melalui kemitraan penyediaan pakan orangutan.

Adapun dari aspek governance, seluruh program dijalankan melalui kemitraan yang transparan dan partisipatif serta berpedoman pada prinsip keberlanjutan. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa konservasi dapat menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Melalui kemitraan yang melibatkan berbagai pihak tersebut, SSMS mendorong agar manfaat program keberlanjutan dapat dirasakan secara lebih luas. Konservasi orangutan pun tidak hanya menjadi tanggung jawab perusahaan atau lembaga konservasi, tetapi turut melibatkan pekebun dan masyarakat desa sebagai bagian dari ekosistem perlindungan keanekaragaman hayati.(TESTI PRISCILLA)