BORNEONEWS, Palangka Raya - Pemberdayaan pekebun kelapa sawit rakyat menjadi salah satu agenda penting dalam penguatan kerja sama Indonesia, Malaysia, dan Thailand melalui kerangka Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle atau IMT-GT.
Hal tersebut menjadi bagian dari pembahasan The 4th Project Implementation Team (PIT) Palm Oil Cooperation Meeting yang digelar dalam rangkaian The 19th IMT-GT Working Group on Agriculture and Agribusiness (WGAA) Meeting.
Salah satu agenda yang mendapat apresiasi dalam pertemuan tersebut adalah penyelenggaraan Webinar on Oil Palm Smallholder Empowerment pada Juni 2026. Kegiatan itu menjadi wadah bagi negara-negara anggota untuk berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam meningkatkan kapasitas serta kesejahteraan pekebun kelapa sawit rakyat.
Perwakilan Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Normansyah Syahrudin, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan penyelenggaraan webinar tersebut. Ia berharap berbagai rekomendasi yang dihasilkan dari forum tersebut dapat ditindaklanjuti dalam bentuk program konkret untuk mendukung pemberdayaan pekebun kelapa sawit.
"Penguatan kapasitas pekebun menjadi salah satu bagian penting dalam membangun industri kelapa sawit yang berkelanjutan. Karena itu, hasil berbagi pengalaman dan praktik terbaik antarnegara diharapkan dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata yang memberikan manfaat bagi pekebun," kata Normansyah dalam rilisnya pada Selasa, 28 Juli 2026.
Menindaklanjuti keberhasilan webinar tersebut, PIT POC mengusulkan agar kegiatan serupa kembali dimasukkan dalam program kerja tahun 2027. Forum tersebut diharapkan dapat menjadi sarana berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas pekebun, mendorong penerapan praktik budidaya yang lebih baik, sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekebun rakyat.
Penguatan pekebun menjadi semakin penting karena Indonesia, Malaysia, dan Thailand secara bersama-sama menyumbang sekitar 87 persen produksi minyak sawit dunia. Ketiga negara tidak hanya memiliki kepentingan untuk menjaga produksi dan daya saing industri, tetapi juga memastikan pembangunan sektor sawit memberikan manfaat yang lebih luas bagi pelaku di sepanjang rantai pasok.
Dalam pertemuan yang sama, ketiga negara berhasil mengadopsi Terms of Reference (ToR) PIT POC sebagai pedoman pelaksanaan kerja sama ke depan. Adopsi ToR akan memperjelas mekanisme koordinasi, pelaksanaan program, dan pembagian peran antarnegara anggota dalam menjalankan berbagai agenda yang telah disepakati.
Pertemuan juga menyambut baik perkembangan substansi MoU on the Palm Oil on IMT-GT. Para delegasi mengusulkan penandatanganan MoU tersebut pada The 32nd IMT-GT Ministerial Meeting yang dijadwalkan berlangsung September 2026.
Sementara itu, Malaysia menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah penyelenggaraan kegiatan PIT POC berikutnya. The 5th PIT POC Meeting disepakati dilaksanakan secara virtual, sedangkan The 6th PIT POC Meeting akan digelar secara tatap muka dan dilaksanakan secara back-to-back dengan WGAA Meeting.
Melalui berbagai kesepakatan tersebut, kerja sama Indonesia, Malaysia, dan Thailand diharapkan semakin memperkuat industri kelapa sawit yang tangguh, berkelanjutan, dan inklusif. Kolaborasi tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kontribusi sektor kelapa sawit terhadap pembangunan ekonomi kawasan sekaligus memberikan manfaat yang lebih besar bagi pekebun dan industri. (TESTI PRISCILLA/j)









