PULANG PISAU –

BORNEONEWS, Pulang Pisau - Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A2KB) Kabupaten Pulang Pisau berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan serta Dinas Sosial PMD menggelar pelayanan kesehatan dan sosial di Desa Mantaren II, Kecamatan Kahayan Hilir, SelasaSelasa, 28 Juli 2026.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Pulang Pisau Tahun 2026 dengan fokus pada pelayanan kesehatan gratis, edukasi kesehatan keluarga, serta percepatan penurunan stunting.

Kepala DP3A2KB Pulang Pisau, dr. Pande Putu Gina mengatakan kegiatan ini tidak hanya memberikan pemeriksaan kesehatan gratis, tetapi juga edukasi kepada masyarakat, khususnya ibu dan anak.

“Intinya kesehatan gratis dan edukasi kesehatan. Kami memberikan penyuluhan tentang pencegahan stunting, pengolahan makanan sehat di rumah, serta penggunaan gawai pada anak agar tidak berlebihan karena dapat mengganggu kesehatan mata dan tumbuh kembang,” ujar Pande. 

Ia menjelaskan pelayanan keluarga berencana (KB) dalam kegiatan ini lebih difokuskan pada penyuluhan, sementara pelayanan KB telah dilaksanakan melalui program Hari Keluarga Nasional dan akan dilanjutkan dengan pelayanan MOW (Metode Operasi Wanita) di RSUD Pulang Pisau.

Menurut Pande, penanganan stunting saat ini dilakukan secara kolaboratif lintas organisasi perangkat daerah (OPD). Dinas Kesehatan fokus pada pendampingan pemberian makanan tambahan, susu, vitamin, dan suplemen penambah berat badan yang diberikan berdasarkan pemeriksaan dokter.

Data Dinas Kesehatan hingga Mei 2026 menunjukkan sasaran balita di Kabupaten Pulang Pisau sebanyak 6.970 anak. Dari jumlah tersebut, 4.314 balita atau 61,89 persen telah diukur pertumbuhannya.

“Prevalensi stunting sampai Mei 2026 sebesar 15,74 persen, turun dari Desember 2025 sebesar 15,94 persen atau turun 0,20 poin persentase. Namun angka ini masih bersifat sementara karena cakupan pengukuran baru 61,89 persen,” jelasnya.

Ia menegaskan pengukuran balita akan terus dipercepat bersama puskesmas agar data stunting semakin akurat.

Pande juga menekankan pentingnya peran posyandu sebagai pusat pemantauan tumbuh kembang anak. Menurutnya, posyandu harus mampu menarik minat orang tua dan anak untuk datang secara rutin melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat.

Selain itu, peningkatan kapasitas kader posyandu terus dilakukan melalui pelatihan karena kader merupakan ujung tombak penanganan stunting di lapangan.

“Kalau balita tidak datang ke posyandu, kader harus melakukan jemput bola ke rumah-rumah. Intervensi tidak bisa hanya menunggu masyarakat datang,” katanya.

Edukasi pencegahan stunting, lanjut Pande, dilakukan sejak remaja melalui posyandu remaja, pembagian tablet tambah darah, serta penyuluhan kesehatan reproduksi dan gizi.

“Pencegahan stunting dimulai dari sebelum menikah. Remaja yang sehat akan menjadi calon orang tua yang sehat,” tambahnya.

Berdasarkan pemantauan di beberapa desa, intervensi gizi yang dilakukan secara konsisten selama 45 hari menunjukkan peningkatan berat badan pada anak stunting.

“Kalau makanan yang diberikan benar-benar dikonsumsi sesuai anjuran, hasilnya terlihat. Tetapi edukasi kepada ibu tetap yang paling penting karena ibu yang paham gizi akan melahirkan dan membesarkan anak yang sehat,” tandasnya. (RETHA/y)