BORNEONEWS, Palangka Raya - Kerja sama Indonesia, Malaysia, dan Thailand dalam pengembangan industri kelapa sawit memasuki babak baru. Ketiga negara berhasil mengadopsi Terms of Reference (ToR) Project Implementation Team Palm Oil Cooperation (PIT POC) sebagai pedoman pelaksanaan kerja sama sektor kelapa sawit ke depan.
Kesepakatan tersebut menjadi salah satu hasil The 4th Project Implementation Team (PIT) Palm Oil Cooperation Meeting yang digelar dalam rangkaian The 19th Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) Working Group on Agriculture and Agribusiness (WGAA) Meeting.
Pertemuan tersebut diikuti delegasi dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Delegasi Indonesia dipimpin Head of Delegation (HoD) Indonesia, Hendratmojo Bagus Hudoro. Delegasi Malaysia dipimpin Norhayati binti Md. Husin, sedangkan Delegasi Thailand dipimpin Ms. Hirunya Srasom. Pertemuan dibuka secara resmi oleh Chairman PIT POC, Dato' Razali bin Mohamad.
Hendratmojo Bagus Hudoro menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama Indonesia, Malaysia, dan Thailand dalam menghadapi dinamika perdagangan internasional, tuntutan keberlanjutan, dan tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.
"Melalui kerangka IMT-GT, kolaborasi ketiga negara perlu diarahkan pada berbagai agenda strategis, termasuk peningkatan produktivitas, pengembangan hilirisasi, pemberdayaan pekebun rakyat, inovasi, serta penguatan berbagai inisiatif yang mendukung pembangunan industri kelapa sawit berkelanjutan," katanya dalam rilis Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP pada Selasa, 28 Juli 2026.
Adopsi ToR PIT POC menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Pedoman ini diharapkan dapat memperjelas mekanisme koordinasi, pelaksanaan program, serta pembagian peran antarnegara anggota dalam menjalankan berbagai inisiatif yang telah disepakati.
Kerja sama tersebut semakin strategis mengingat Indonesia, Malaysia, dan Thailand secara bersama-sama menyumbang sekitar 87 persen produksi minyak sawit dunia. Dengan posisi tersebut, ketiga negara memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pasokan minyak sawit global sekaligus menghadapi tantangan peningkatan produktivitas, keberlanjutan, pemberdayaan pekebun, dan akses pasar internasional.
Pertemuan juga mencatat perkembangan penting terkait MoU on the Palm Oil on IMT-GT. Seluruh negara anggota menyambut baik tercapainya kesepakatan terhadap substansi naskah MoU yang diharapkan menjadi landasan penguatan kerja sama regional di sektor kelapa sawit.
Para delegasi mengusulkan penandatanganan MoU dilaksanakan pada The 32nd IMT-GT Ministerial Meeting yang dijadwalkan berlangsung September 2026. Penandatanganan pada tingkat Menteri diharapkan menjadi momentum untuk mempertegas komitmen politik Indonesia, Malaysia, dan Thailand dalam memperkuat kerja sama strategis sektor kelapa sawit.
Kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat posisi ketiga negara sebagai produsen utama minyak sawit dunia, tetapi juga mendorong terwujudnya industri sawit yang tangguh, berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi pekebun, pelaku industri, dan perekonomian kawasan. (TESTI PRISCILLA/H)









