BORNEONEWS, Sampit – Dinas Perhubungan Kabupaten Kotawaringin Timur memperkuat pengawasan dan koordinasi untuk mengantisipasi dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap aktivitas penerbangan serta pelayaran.
Kepala Dishub Kotim Raihansyah mengatakan karhutla berpotensi menurunkan jarak pandang dan mengganggu kelancaran transportasi, terutama penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit serta pelayaran di Sungai Mentaya.
“Sementara ini karhutla sudah berdampak terhadap penerbangan. Kami juga mengkhawatirkan kapal-kapal yang melalui Sungai Mentaya ikut terdampak,” katanya di Sampit, Rabu, 29 Juli 2026.
Menurutnya, Sungai Mentaya memiliki peran strategis sebagai jalur angkutan barang dan distribusi berbagai kebutuhan pokok menuju Kotim.
Apabila kapal pengangkut logistik tidak dapat beroperasi secara normal akibat jarak pandang terbatas, distribusi bahan pokok berpotensi mengalami keterlambatan.
Kondisi tersebut dikhawatirkan menyebabkan pasokan sejumlah komoditas berkurang, harga meningkat, dan akhirnya memengaruhi inflasi daerah.
“Terutama kapal yang membawa sembako dan kebutuhan lainnya. Kalau distribusinya tertunda, dampaknya dapat berupa kenaikan harga ataupun kelangkaan bahan pokok,” ujarnya.
Dishub Kotim terus berkoordinasi dengan otoritas pelabuhan, pengelola bandara, operator transportasi, dan instansi terkait agar kegiatan pelayaran maupun penerbangan tetap berjalan dengan aman.
Pemantauan juga dilakukan terhadap operasional penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit setelah karhutla terjadi di sekitar kawasan bandara.
Raihansyah menyebut penerbangan Super Air Jet rute Jakarta–Sampit sempat mengalami keterlambatan sekitar dua jam pada pekan sebelumnya.
Ia menjelaskan keterlambatan tersebut bukan disebabkan kabut asap yang menurunkan jarak pandang pilot, melainkan adanya kebakaran di sekitar ujung landasan pacu 13.
Lokasi kebakaran berada di sekitar jalur yang digunakan pesawat untuk melakukan manuver pendaratan. Karena itu, penerbangan dari Jakarta ditunda dengan mempertimbangkan keselamatan.
Dishub Kotim mengajak masyarakat ikut menjaga kelancaran transportasi dengan tidak membuka maupun membersihkan lahan menggunakan api selama musim kemarau.
Masyarakat juga diminta segera memadamkan api yang masih kecil atau melaporkannya kepada petugas agar tidak berkembang menjadi kebakaran luas.
“Mari kita jaga bersama selama musim kemarau. Jangan membakar hutan dan lahan. Kalau menemukan api kecil, segera dipadamkan atau dilaporkan karena dampaknya juga dapat mengganggu perekonomian,” tegas Raihansyah.









