JAKARTA –

BORNEONEWS, Washington – Amerika Serikat mengerahkan lebih dari 20 kapal perang ke berbagai wilayah Timur Tengah untuk mendukung operasi militer yang sedang berlangsung di kawasan tersebut.

Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan armada tersebut turut dikerahkan untuk menjalankan blokade laut terhadap Iran yang oleh Washington disebut sebagai “tembok baja”.

“Ada lebih dari 20 kapal yang beroperasi di seluruh wilayah Timur Tengah untuk mendukung operasi militer, termasuk penegakan ketat blokade Amerika Serikat terhadap Iran,” demikian pernyataan CENTCOM melalui platform X, Selasa, 28 Juli 2026.

Pernyataan CENTCOM tidak menyebutkan secara terperinci jenis maupun lokasi seluruh kapal yang dikerahkan. Karena itu, angka pasti 21 kapal seperti disebutkan dalam laporan awal belum dapat dikonfirmasi.

CENTCOM mengklaim pasukannya telah mengalihkan pelayaran 18 kapal komersial yang dianggap berupaya melanggar blokade tersebut.

Militer Amerika Serikat juga dilaporkan melumpuhkan dua kapal dan menaiki dua kapal lainnya untuk memeriksa kepatuhan terhadap ketentuan blokade.

Blokade itu kembali diberlakukan setelah ketegangan Amerika Serikat dan Iran meningkat di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur penting perdagangan minyak dan gas dunia.

Amerika Serikat dan Iran sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni 2026 untuk memperpanjang gencatan senjata sekaligus membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran komersial.

Kesepakatan sementara tersebut memberi waktu 60 hari bagi kedua pihak untuk merundingkan penyelesaian konflik yang lebih menyeluruh.

Namun, Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada 7 Juli 2026 setelah tiga kapal tanker dilaporkan terkena proyektil di Selat Hormuz.

Washington menyatakan serangan tersebut merupakan respons terhadap tindakan Iran yang dinilai membahayakan pelayaran komersial. Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan.

Teheran menuding Washington telah melanggar kesepakatan gencatan senjata. Sementara pemerintah Amerika Serikat menyatakan kesepakatan tidak lagi berlaku setelah serangan terhadap kapal-kapal komersial.

Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih terganggu akibat ketegangan tersebut. Data perusahaan pemantau pelayaran Kpler menunjukkan hanya enam kapal pengangkut komoditas yang melintasi selat itu pada Senin, 27 Juli 2026.

Meski operasi militer masih berlangsung, upaya diplomatik untuk meredakan konflik terus dilakukan dengan melibatkan Oman dan sejumlah negara di kawasan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perundingan dengan Iran menunjukkan perkembangan, tetapi memperingatkan bahwa operasi militer dapat kembali ditingkatkan apabila pembicaraan gagal.

ANTARA