BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Munculnya pelangsir dadakan diduga menjadi salah satu penyebab utama antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).
Hal ini terungkap dalam pertemuan antara pihak Pertamina, SPBU, Pemkab Kobar, aparat keamanan serta pihak terkait, yang dilakukan di ruang ralat Bupati Kobar, Rabu, 29 Juki 2026 menyikapi kondisi antrean panjang pengguna BBM yang terjadi di Kabupaten Kobar belakangan ini.
Pengelola SPBU mengaku tidak memiliki kewenangan untuk melarang kendaraan yang masih memiliki hak pengisian berdasarkan barcode MyPertamina.
Perwakilan SPBU mengatakan sistem barcode memang membatasi kuota maksimal pengisian BBM bersubsidi sesuai jenis kendaraan. Namun, di lapangan masih ditemukan kendaraan yang datang berulang kali setiap hari untuk mengisi BBM.
"Misalnya satu mobil memiliki kuota 120 liter. Kalau dia mengisi 40 liter, barcode-nya masih bisa digunakan lagi sesuai ketentuan. Tetapi kalau mobil yang sama datang setiap hari dengan pola yang sama, tentu patut diduga BBM itu disalahgunakan," jelasnya
Ia menjelaskan, petugas SPBU tidak bisa menolak pengisian selama barcode masih aktif dan kuota harian kendaraan tersebut belum habis.
"Kami dari SPBU tidak berhak menindak ataupun melarang karena kendaraan tersebut masih memiliki hak pengisian sesuai barcode yang dimiliki," ujarnya.
Menurut perwakilan SPBU, tingginya harga Pertalite di tingkat pengecer yang mencapai Rp15 ribu hingga Rp16 ribu per liter diduga menjadi daya tarik bagi oknum pelangsir untuk membeli BBM bersubsidi di SPBU, kemudian menjualnya kembali demi memperoleh keuntungan.
"Daripada mobil menganggur, mereka memilih membeli BBM di SPBU lalu menjualnya lagi ke pengecer. Karena itu yang perlu ditertibkan bukan hanya di SPBU, tetapi juga penjualan BBM di tingkat pengecer," katanya.
Ia juga mengungkapkan adanya dugaan satu sepeda motor digunakan secara bergantian oleh beberapa pelangsir untuk membeli BBM bersubsidi.
"Kami menduga ada satu motor yang digunakan lebih dari satu orang pelangsir. Kondisi seperti ini membuat antrean semakin panjang," ucapnya.
Pihak SPBU berharap aparat kepolisian bersama Satgas BBM dapat meningkatkan razia terhadap pelangsir karena dinilai menjadi salah satu langkah efektif untuk mengurangi antrean.
"Kami berharap ada razia pelangsir. Selain itu, penjualan BBM eceran juga perlu ditertibkan agar antrean di SPBU bisa berkurang," pungkasnya. (WAHYU KRIDA/y)









