PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Indonesia, Malaysia, dan Thailand memperkuat sinergi pengembangan industri kelapa sawit berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing melalui The 4th Project Implementation Team (PIT) Palm Oil Cooperation Meeting dalam rangkaian The 19th Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) Working Group on Agriculture and Agribusiness (WGAA) Meeting.

Pertemuan yang menjadi momentum strategis bagi ketiga negara tersebut dibuka secara resmi oleh Chairman PIT POC, Dato' Razali bin Mohamad. Delegasi Indonesia dipimpin Head of Delegation (HoD) Indonesia, Hendratmojo Bagus Hudoro, sedangkan Delegasi Malaysia dipimpin Norhayati binti Md. Husin dan Delegasi Thailand dipimpin Ms. Hirunya Srasom.

Sebagai tiga negara produsen utama kelapa sawit dunia, Indonesia, Malaysia, dan Thailand memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pasokan minyak sawit global. Secara bersama-sama, ketiga negara menyumbang sekitar 87 persen produksi minyak sawit dunia, dengan Indonesia sebagai produsen terbesar, disusul Malaysia dan Thailand.

Dalam sambutannya sebagai tuan rumah, Hendratmojo Bagus Hudoro menyampaikan apresiasi atas kehadiran seluruh delegasi.

"Kerja sama ketiga negara di sektor kelapa sawit perlu terus diperkuat dalam menghadapi dinamika perdagangan internasional, tuntutan keberlanjutan, dan tantangan perubahan iklim," kata Hendratmojo seperti dalam rilis Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP pada Rabu, 29 Juli 2026.

Melalui kerangka IMT-GT, ketiga negara diharapkan dapat meningkatkan kolaborasi dalam berbagai bidang, mulai dari peningkatan produktivitas, hilirisasi, pemberdayaan pekebun rakyat, inovasi, hingga harmonisasi berbagai inisiatif untuk mendukung pembangunan industri kelapa sawit yang berkelanjutan.

Salah satu capaian penting pertemuan tersebut adalah konfirmasi persetujuan terhadap substansi MoU on the Palm Oil on IMT-GT. Kesepakatan ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat landasan kerja sama regional di sektor kelapa sawit.

MoU tersebut diharapkan menjadi dasar kolaborasi dalam peningkatan produktivitas, pengembangan industri hilir, penguatan sistem ketertelusuran atau traceability, promosi praktik budidaya berkelanjutan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penelitian dan pengembangan, serta pertukaran informasi dan pengalaman antarnegara.

Para delegasi juga mengusulkan agar penandatanganan MoU dilaksanakan pada The 32nd IMT-GT Ministerial Meeting yang dijadwalkan berlangsung September 2026. Penandatanganan di tingkat Menteri diharapkan menjadi bentuk komitmen politik yang kuat dari ketiga negara dalam memperkuat kerja sama strategis sektor kelapa sawit. (TESTI PRISCILLA/H)