PULANG PISAU –

BORNEONEWS, Pulang Pisau - Lomba cerdas cermat tingkat Kecamatan Kahayan Hilir tidak hanya menjadi rangkaian perayaan Hari Jadi Kabupaten Pulang Pisau ke-24 dan HUT Kemerdekaan RI ke-80, tetapi juga menjadi ajang mengukur wawasan dan kemampuan peserta didik tingkat SD dan SMP.

Dewan juri lomba cerdas cermat tingkat SD, Bratanata Sanjaya, menilai kegiatan tersebut sangat baik sebagai sarana evaluasi kemampuan siswa sesuai kurikulum yang berlaku saat ini.

“Penyusunan soal dilakukan oleh tim sesuai bidang masing-masing. Guru IPAS menyusun soal IPAS dan mata pelajaran lain juga disusun oleh guru yang kompeten di bidangnya, sehingga soal yang keluar relevan dengan kurikulum saat ini,” katanya, Rabu, 29 Juli 2026.

Ia menjelaskan, materi lomba untuk tingkat SD diambil dari pelajaran kelas IV, sedangkan tingkat SMP menggunakan materi kelas VII. Peserta yang bertanding merupakan siswa kelas V SD dan kelas VIII SMP sehingga mereka dinilai telah mempelajari materi tersebut sebelumnya.

Menurut Bratanata, sistem penilaian lomba dibagi menjadi dua babak, yakni paket regu dan rebutan. Mekanisme penilaian telah disepakati bersama panitia dan digunakan secara konsisten selama dua tahun terakhir.

“Antusiasme peserta tahun ini masih sama seperti tahun pertama. Mereka sangat bersemangat mengikuti lomba,” ujarnya.

Ia menambahkan, pelaksanaan lomba cerdas cermat di Kahayan Hilir menjadi momentum penting untuk menguji kompetensi siswa sekaligus memupuk semangat berprestasi. Juara pertama nantinya akan mewakili Kecamatan Kahayan Hilir pada lomba tingkat Kabupaten Pulang Pisau.

“Ini ajang bergengsi, bukan hanya sampai tingkat kecamatan. Anak-anak, guru, sekolah bahkan orang tua merasa bangga ketika bisa melaju ke tingkat kabupaten,” katanya.

Bratanata juga menyoroti pentingnya peningkatan literasi dan numerasi siswa. Dari hasil pengamatan selama lomba, kemampuan numerasi masih menjadi tantangan utama, terutama pada soal-soal matematika yang membutuhkan perhitungan cepat.

“Banyak siswa masih kesulitan dalam perkalian dan pembagian. Selain kemampuan numerasi, faktor waktu yang hanya 30 detik dan ketegangan saat tampil di depan banyak orang juga memengaruhi jawaban mereka,” jelasnya.

Karena itu, ia berharap sekolah dan guru pendamping dapat menjadikan hasil lomba sebagai bahan refleksi untuk meningkatkan pembelajaran di kelas.

Sementara itu, dewan juri tingkat SMP, Dawam Mutaqin, menyampaikan bahwa persoalan numerasi juga terlihat pada peserta SMP.

“Kalau dasar numerasinya di SD masih kurang, maka di SMP akan terbawa. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi pendidik di semua jenjang,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa peningkatan kemampuan numerasi tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada sekolah. Menurutnya, diperlukan kolaborasi antara guru dan orang tua agar anak mendapatkan pendampingan belajar yang lebih optimal di rumah.

“Kita perlu kerja sama dengan orang tua. Jangan semua diserahkan ke sekolah. Orang tua juga perlu memperhatikan perkembangan belajar anak setelah pulang sekolah,” katanya.

Dawam berharap lomba cerdas cermat terus dipertahankan sebagai agenda tahunan karena memberikan dampak positif bagi sekolah, siswa, dan masyarakat dalam menumbuhkan budaya belajar, literasi, dan numerasi. (RETHA/H)