BORNEONEWS, Sampit – Dari total 270 siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), terdapat 47 siswa berasal dari Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK) untuk jenjang SD, SMP, dan SMA.
Camat Mentawa Baru Ketapang mengatakan, puluhan siswa tersebut berasal dari lima kelurahan dan enam desa di wilayahnya. Sejak awal, pihak kecamatan terlibat aktif mendampingi proses pendataan hingga pemeriksaan kesehatan calon peserta didik.
"Untuk calon siswa Sekolah Rakyat dari Kecamatan Mentawa Baru Ketapang ada kurang lebih 47 siswa, mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA. Kami mendampingi sejak pendataan berdasarkan desil, kemudian saat proses verifikasi data, skrining kesehatan di puskesmas, hingga hari ini mengantar mereka mengikuti MPLS di Sekolah Rakyat," kata Camat Mentawa Baru Ketapang Irpansyah, Kamis, 30 Juli 2026.
Ia menjelaskan, proses skrining kesehatan dilakukan di Puskesmas Ketapang I, Puskesmas Ketapang II, dan Puskesmas Pasir Putih sebagai salah satu syarat sebelum siswa mulai mengikuti pendidikan berasrama.
Meski demikian, proses penjaringan peserta didik tidak sepenuhnya berjalan mudah. Tantangan terbesar justru terjadi pada penerimaan siswa tingkat sekolah dasar karena banyak orang tua belum siap melepas anak berusia enam hingga tujuh tahun tinggal di asrama.
"Untuk tingkat SD memang kami cukup kesulitan mencari siswa. Orang tua masih enggan melepas anaknya yang baru berusia enam atau tujuh tahun untuk tinggal di asrama," ujarnya.
Berbeda dengan jenjang SD, minat masyarakat terhadap Sekolah Rakyat di tingkat SMP dan SMA justru sangat tinggi. Bahkan kuota SMP dari Kecamatan Mentawa Baru Ketapang sempat melebihi alokasi yang tersedia sehingga panitia harus melakukan seleksi kembali sesuai ketentuan.
"Untuk SMP kuotanya malah melebihi sehingga kami meminta panitia melakukan seleksi. Sedangkan untuk SMA antusias masyarakat juga sangat tinggi dan kuotanya terpenuhi," jelasnya.
Menurutnya, tingginya minat masyarakat, khususnya pada jenjang SMP dan SMA, tidak terlepas dari manfaat program Sekolah Rakyat yang memberikan akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu.
"Orang tua, terutama yang anaknya masuk SMA, sangat antusias. Mereka banyak menyampaikan terima kasih kepada pemerintah karena program Sekolah Rakyat sangat membantu kondisi ekonomi keluarga dalam menyekolahkan anak," katanya.
Namun demikian, ia mengaku masih menghadapi persoalan lain, yakni masih adanya anak putus sekolah yang belum bisa kembali mengenyam pendidikan karena kurangnya dukungan dari keluarga.
"Yang kami sayangkan masih ada anak putus sekolah yang sebenarnya ingin kami masukkan ke Sekolah Rakyat, tetapi orang tuanya terkesan membiarkan sehingga anak akhirnya tidak mau sekolah lagi," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









